Rusuh 22 Mei Pecah Lagi di Bawaslu, 3 Dilarikan ke RSUD Tarakan

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi bersenjata lengkap menghalau massa yang anarkis di kawasan Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. TEMPO/Amston Probel

    Polisi bersenjata lengkap menghalau massa yang anarkis di kawasan Petamburan, Jakarta Barat, Rabu, 22 Mei 2019. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban rusuh 22 Mei mulai berdatangan lagi ke RSUD Tarakan Jakarta, Jakarta Pusat, akibat kena gas air mata di depan kantor Bawaslu RI malam ini.

    "Semua sesak nafas," kata petugas ambulans di RSUD Tarakan pada Rabu, 22 Mei 2019.

    BacaDua Korban Aksi 22 Mei Meninggal di RS Tarakan

    Tempo melihat dua lelaki dibawa turun dari ambulans. Korban pertama mengenakan kaus hitam tiba sekitar pukul 18.45 WIB menggunakan ambulans Angkasa Pura. Dia bernama Muh. Uzma, 16 tahun, warga Bogor. Nafas Uzma tampak tersenggal-senggal.

    Selang beberapa menit, satu lelaki lagi dibawa menggunakan ambulans berbeda. Dia adalah warga Tanah Kusir, Jakarta Selatan, bernama Dedy Setiawan (22). Masih ada korban lain, yakni Indra (32), warga Galur Selatan, Jakarta Pusat, yang terkena gas air mata di Slipi.

    Hingga sekitar pukul 17.00, menurut Kepala Bagian Umum dan Pemasaran RSUD Tarakan Reggy S. Sobari, korban yang berada di sana 13 orang. Mereka pasien yang baru selesai dioperasi dan masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.

    Itu artinya masih ada 16 pasien di RSUD Tarakan ketika berita ini diturunkan. Total pasien yang dibawa ke RSUD Tarakan hingga pukul 19.35 sebanyak 146 orang.

    Massa di depan Kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, kembali ricuh seusai buka puasa. Kejadian berawal ketika mobil komando polisi meminta massa dari Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat untuk membubarkan diri.

    Tidak lama kemudian, dari arah depan pusat perbelanjaan Sarinah muncul lemparan botol kaca dan plastik ke arah barikade polisi.

    Baca jugaTemukan Selongsong Peluru, Massa Rusuh 22 Mei Salahkan Polisi

    Koordinator berteriak menenangkan massa. "Harap tenang, ayo pulang. Jangan terprovokasi," ucapnya.

    Bukannya bubar, massa malah terus melempar sejumlah botol ke arah petugas. Tak hanya botol, massa juga sempat melempar petasan. Bahkan, ada gas air mata dari kerumunan massa, meski belum diketahui apakah gas air mata itu milik massa atau polisi.

    LANI DIANA | ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.