Polisi: Wanita Beransel di Demo 22 Mei Tak Terafiliasi Teroris

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat membubarkan diri seusai melakukan aksi demo di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019.  Koordinator lapangan Aksi 22 Mei atau Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR), Jumhur Hidayat, meminta massa unjuk rasa pulang. TEMPO/Subekti.

    Massa Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat membubarkan diri seusai melakukan aksi demo di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Koordinator lapangan Aksi 22 Mei atau Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR), Jumhur Hidayat, meminta massa unjuk rasa pulang. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wanita bercadar hitam yang menerobos barikade polisi di Bawaslu pada Demo 22 Mei dipastikan tak terkait dengan jaringan teroris. Kedatangan wanita itu sempat membuat suasana di sekitar Bawaslu menjadi tegang karena dia diduga membawa bom.   

    Baca: Pasca Kerusuhan dan Demo 22 Mei, Petugas PPSU Kumpulkan Batu 87 Karung di Sekitar Bawaslu 

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan Dewi Mustika Rini, 32 tahun, wanita yang menerobos barikade polisi sambil membawa ransel hitam tak tergabung dengan kelompok teroris.  

    Menurut Argo, keterangan itu didapat saat personel Densus 88 Antiteror menginterogasi Dewi. "Menurut keterangan Densus 88, yang bersangkutan (Dewi) tak ada jaringan teroris," ujar Argo di kantornya pada Kamis, 23 Mei 2019.

    Pada Rabu malam sekitar pukul 22.00 WIB, Dewi datang dari arah Monas dengan mengendarai sepeda motor seorang diri. Di perempatan Patung Kuda, petugas Dinas Perhubungan menghalaunya, sebab di sekitar Bawaslu sedang terjadi kericuhan antara demonstran dengan aparat. Jalan M.H. Thamrin ditutup.

    Menurut seorang saksi mata, Dewi justru meninggalkan motornya dan berjalan kaki ke arah Bawaslu. “Tadi sudah dilarang, tapi motornya ditinggal,” kata seorang saksi mata di lokasi.

    Petugas kepolisian baru menyadari ketika Dewi sudah berjalan melewati perempatan Kebon Sirih menuju perempatan Sarinah. “Pak, itu bawa ransel pak, bawa ransel,” kata pria yang mengejarnya sejak dari persimpangan patung kuda.

    Petugas yang sadar kemudian meneriaki si perempuan untuk berhenti. Namun, peringatan itu tak diindahkan. Dia malah duduk di separator busway Transjakarta sambil mengumpat dan bicara soal api neraka.

    Seorang petugas kepolisian sempat mendekati perempuan dalam jarak sekitar tiga meter untuk bernegosiasi. Dewi malah menyeberang ke lajur yang berlawanan dan kembali berjalan mengarah ke perempatan Sarinah. Di sana, puluhan polisi bertameng sedang berjaga di sekitar Bawaslu.

    Polisi meresponsnya dengan menembakkan gas air mata. Lewat pelantang, polisi meminta Dewi duduk dan menyerah. Namun dia masih mondar-mandir, tepatnya di muka Gedung Kementerian Koordinator Kemaritiman.

    Baca: Menegangkan, Penangkapan Perempuan Pembawa Ransel di Demo 22 Mei

    Setelah lebih dari satu jam negosiasi, polisi yang berjaga di Demo 22 Mei akhirnya bisa meminta perempuan itu melepaskan ransel, jaket hitam, serta kerudung dan cadarnya untuk memastikan tidak ada bom. Setelah diinterogasi, perempuan itu dipastikan bukan anggota kelompok teroris yang hendak menyerang Bawaslu.   


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.