Ini Jenis Racun di Anak Panah yang Dipakai dalam Kerusuhan 22 Mei

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sisa-sisa kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi, 23 Mei 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    Sisa-sisa kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi, 23 Mei 2019. TEMPO/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil Pemeriksaan Badan Laboratorium Forensik Mabes Polri menemukan racun berjenis Zink Posfit di anak panah saat kerusuhan 22 Mei di Petamburan, Jakarta Pusat.

    Kepala Polres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan Zink Posfit ini merupakan zat yang sangat beracun.

    Baca : Polisi: Anak Panah yang Digunakan dalam Kerusuhan 22 Mei Mengandung Racun

    "Kami pun menemukan unsur kimia lain yang berbahaya yaitu zat karat yang apabila terkena tubuh manusia akan mengakibatkan pendarahan hingga Tetanus," ujarnya di Jakarta, Jumat, 31 Mei 2019.

    Polisi diketahui telah menangkap empat orang perusuh yang merusak kendaraan dan pencurian terhadap barang Inventaris milik Brimob saat kericuhan 22 Mei 2019.

    Ia menegaskan berdasarkan hasil pemeriksaan dari laboratorium forensik dan hipotesa, empat orang tersebut tidak berniat melakukan unjuk rasa, karena waktu untuk unjuk rasa telah dibatasi oleh UU pada pukul 18.00 WIB, sedangkan aksi mereka dimulai pada pukul 02.00 dini hari dan juga sudah mempersipakan alat-alatnya untuk melakukan penyerangan.

    "Mereka memang mempunyai niat akan melawan petugas dengan sasaran yang sudah jelas. Sasaran itu adalah petugas dan properti milik kepolisian dan asrama. Hal itu bisa dibuktikan dengan barang bukti yang sudah dilakukan pemeriksaan, dan adanya benda tajam, bom molotov, busur-busur yang ternyata mengandung racun yang bersifat korosif," dia menegaskan.

    Baca : Kini Terbaring di ICU Usai Kerusuhan 22 Mei, Ini Kisah Markus Sebelum Ditangkap Brimob

    Dikatakan Hengki, para perusuh sudah mempersiapkan peralatan sebelum melakukan penyerangan ke asrama Brimob. Terbukti dapat diketahui ada busur-busur panah yang khusus akan digunakan malam hari.

    "Alhamdulilah anggota tidak ada yang terluka karena sebagian besar anggota yang di depan menggunakan body protector sehingga selamat," ujar dia terkait saat peristiwa kerusuhan 22 Mei tersebut.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.