Bank Dunia Beri Rp 1,4 T untuk Sampah Citarum, Bekasi Kecipratan

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membakar sampah yang menutupi sebagian Sungai Citarum di Kampung Cicukang, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Ahad, 27 Januari 2019. TEMPO/Prima Mulia

    Warga membakar sampah yang menutupi sebagian Sungai Citarum di Kampung Cicukang, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Ahad, 27 Januari 2019. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Bekasi masuk dalam 8 Kabupaten/Kota yang akan menerima dana bantuan Rp 1,4 triliun dari Bank Dunia untuk mengatasi sampah sungai Citarum. 

    Baca: Februari 2020, Pemkot Depok Bisa Buang Sampah ke TPPAS Lulut-Nambo

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam siaran persnya, mengatakan 8 kabupaten/kota penerima dana bantuan ini berada di wilayah DAS Citarum. Persoalan sampah sungai Citarum sudah dipetakan penanganannya sesuai dengan volume sampah yang mengarus ke sungai Citarum.

    Metro Bandung, yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, kata Ridwan kamil, menjadi penyumbang sampah sungai terbanyak.

    Rencana pembagian dana bantuan itu diungkap Ridwan Kamil usai memimpin Rapat Persiapan dan Usulan Kebutuhan Penanganan Limbah Domestik DAS Citarum bersama Bupati Bekasi, Bupati Karawang, Bupati Cianjur, Bupati Purwakarta, Bupati Bandung Barat, Bupati Bandung, Wali Kota Cimahi dan Wali Kota Bandung di Gedung Sate.

    "Ternyata 80 persen sampah Citarum datang dari Metro Bandung yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat," kata Ridwan, Selasa 25 Juni 2019.

    Sisanya, 20 persen sampah Citarum, berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Bekasi.

    Maka itu, dana bantuan akan dialokasikan kepada setiap daerah sesuai dengan proporsi permasalahannya. Metro Bandung, kata dia, akan mendapat dana bantuan terbesar dengan besaran Rp300 miliar.

    "Anggarannya akan kita bagi sesuai proporsi persoalan sampahnya. Kalau dirupiahkan minimal 50 miliar per kabupaten/kota. Ada juga yang Rp100 miliar, Rp200 miliar, dan paling besar Rp 300 miliar,” katanya.

    Dengan suntikan dana dan komitmen bersama menangani sampah Citarum, Ridwan optimistis sungai sepanjang 300 kilometer tersebut akan bebas dari sampah dalam lima tahun ke depan. "Jadi, kita berkomitmen dan kita optimis dalam lima tahun sampah citarum akan selesai," ucapnya.

    Semua Kepala Daerah yang hadir dalam rapat tersebut akan mengirimkan surat kesanggupan kepada Gubernur Jawa Barat untuk ikut peran serta anggaran, di antaranya harus melakukan pembebasan lahan, fasilitas, dan biaya operasional.

    "Boleh juga nantinya untuk beli truk sampah yang canggih atau bikin biodigester raksasa," kata Ridwan.

    Menurut Ridwan, kunci penyelesaian sampai Citarum adalah pencegahan sampah sejak dari rumah. Sebab, anggaran itu akan lebih banyak digunakan untuk pencegahan sampah habis di tempat, pendirian bank sampah di tingkat Kecamatan.

    "Kuncinya adalah mencegah sampah sejak dari rumah jadi kita bukan membiarkan gaya hidupnya masyarakat terus kita bikin teknologi canggih tapi justru anggaran ini akan lebih banyak untuk mengedukasi sampah," katanya.

    Baca: Anggaran Pakaian Dinas Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Rp 755 Juta

    Ridwan Kamil akan mengalokasikan 15 persen atau sekitar Rp 200 miliar dana bantuan dari Bank Dunia itu untuk mengkaji hal non-fisik, seperti kebijakan, edukasi, seminar, dan pelatihan dalam mengatasi sampah sunga Citarum. "Menurut saya itu besar sekali Rp 200 Milyar hanya untuk non-fisik. Jadi, harus dimanfaatkan sebaik mungkin," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.