Jakarta Terpolusi di Dunia, Anies Ingin Kembalikan Seperti 1998

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) bersama Direktur PT Transjakarta Agung Wicaksono (kanan) mengecek bus listrik saat pra uji coba di Halaman Pendopo Balaikota, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Pemprov DKI Jakarta menargetkan dengan menggunakan bus listrik ini bisa mengurangi angka polusi udara di Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) bersama Direktur PT Transjakarta Agung Wicaksono (kanan) mengecek bus listrik saat pra uji coba di Halaman Pendopo Balaikota, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Pemprov DKI Jakarta menargetkan dengan menggunakan bus listrik ini bisa mengurangi angka polusi udara di Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berambisi mengembalikan kondisi Jakarta seperti tahun 1998, yakni saat jumlah masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi hanya 50 persen dari total populasi. 

    Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Buruk, Cara Anies Baswedan Atasi Polusi

    "Minimal harus cepat kembali ke 1998, separuh penduduk Jakarta gunakan kendaran umum. Sekarang 25 persen gunakan kendaran umum, 75 pribadi," ujar Anies di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu, 27 Juni 2019. 

    Anies menjelaskan sumber polusi terbesar di Jakarta saat ini berasal dari kendaran bermotor. Oleh sebab itu, pihaknya berusaha menekan jumlah pengguna kendaraan pribadi dengan meningkatkan kualitas kendaraan umum. 

    Saat ini kualitas udara di Jakarta tengah menjadi perhatian setelah situs penyedia peta polusi udara AirVisual mencatat bahwa DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia. Laman AirVisual menyebutkan bahwa Air Quality Index-nya (AQI) memiliki nilai 208 per Rabu pagi, 26 Juni 2019 pukul 08.33 yang artinya udara di Jakarta sangat tidak sehat.

    Setelah Jakarta, ada kota Lahore di Pakistan, Hanoi di Vietnam, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Wuhan di China yang masuk lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi dunia.

    Dengan kondisi ini, anak-anak dan orang dewasa yang aktif, serta penderita penyakit pernafasan seperti asma harus menghindari aktivitas luar ruangan yang terlalu lama. Sementara anak-anak dan masyarakat lain dianjurkan untuk membatasi waktu di luar ruangan.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menanggapi hal tersebut. Menurut Kepala Laboratorium DLH Diah Ratna Ambarwati, AirVisual seharusnya tidak bisa men-judge bahwa seluruh wilayah Jakarta udaranya buruk. 

    "Kalau per hari ini AQI-nya 208, berarti sudah turun ya, karena yang 25 Juni kemarin AirVisual menyatakan jam 8 pagi dengan nilai 240. Itu lokasi AirVisual dalam pengukuran di mana, kita kurang tahu, kita membandingkan dengan stasiun pemantau kualitas udara yang ada di DKI Jakarta nih," kata Diah. 

    Baca juga: Polusi Udara di Jakarta, Anies Tuding Pembangkit Listrik Batubara

    Anies Baswedan mengatakan pihaknya tengah berusaha menuntaskan integrasi transportasi umum agar masyarakat semakin mantap untuk berpindah. "Target 2030 (setengah masyarakat pakai kendaraan umum). Alhamdulillah tahun lalu sudah menunjukkan perbaikan (kualitas udara)," kata Anies


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...