Anies Sebut Rencana Hujan Buatan di DKI Offside, Ini Reaksi BPPT

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hujan Buatan

    Hujan Buatan

    TEMPO.CO, Jakarta -Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyebut, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT menggelar rapat dengan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI guna membahas pelaksanaan hujan buatan.

    Hammam berujar dalam rapat itu DKI meminta agar TMC diterapkan sebelum 15 Juli.

    Baca : Rencana Hujan Buatan di DKI Jakarta, Anies Baswedan: BPPT Offside

    "Itu hasil rapat sesuai yang disampaikan pihak DKI karena DKI butuh cepat. DKI dalam hal ini diwakili oleh TGUPP minta TMC dilakukan sebelum tanggal 15 di mana tanggal itu anak-anak sudah mulai masuk sekolah, dan kita siap," ujar Hammam dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 5 Juli 2019.

    Hammam meyakini pemerintah DKI menginginkan solusi terbaik dalam mengatasi polusi udara ke depannya. Prinsipnya, lanjut dia, BPPT siap mendukung DKI ataupun pemerintah daerah lain.

    "Serta memberikan layanan teknologi modifikasi cuaca untuk berbagai tujuan kesejahteraan masyarakat, termasuk mengurangi polusi udara yang dapat membahayakan warga," ucap Hammam.

    Dia menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Anies menjelaskan rencana hujan buatan di Ibu Kota tak seharusnya bocor ke publik sekarang. Sebab, hingga kini rencana tersebut masih digodok alias belum siap.

    "Menurut saya BPPT offside tuh. Jadi sebelum matang, sebelum semuanya siap, kami tak umumkan. Kalau (begini) hanya menjadi perdebatan," kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat hari ini, Jumat 5 Juli 2019.

    Hujan buatan dinilai dapat mengurangi tingkat pencemaran udara Jakarta. BPPT menyodorkan tiga skenario hujan buatan, yakni penyemaian awan, penghilangan lapisan inversi, dan penyemprotan air baik dengan pesawat atau dari darat. Modifikasi cuaca seperti ini sudah diterapkan di beberapa kota di negara lain, seperti Thailand, Cina, Korea Selatan, dan India.

    Kualitas udara di Jakarta tengah menjadi perhatian menyusul situs penyedia peta polusi udara AirVisual mencatat bahwa DKI kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.

    Baca : Atasi Polusi Udara Jakarta, Anies Setuju Hujan Buatan Juli Ini

    Laman AirVisual menyebutkan, Air Quality Index (AQI) dengan skor 208 pada Rabu lalu, 26 Juni 2019, sekitar pukul 08.33 WIB. Ini artinya udara di Jakarta sangat tidak sehat.

    Dengan kondisi seperti ini, menurut AirVisual, disarankan anak-anak dan orang dewasa yang aktif serta penderita penyakit pernafasan, seperti asma, harus menghindari aktivitas luar ruangan yang terlalu lama. Sedangkan anak-anak dan masyarakat pada umumnya dianjurkan membatasi waktu di luar ruangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...