Polusi Udara di DKI Disebut Buruk, Warga Belum Rasakan Perbedaan

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menggunakan masker saat berkendara di Kuningan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Indeks kualitas udara Jakarta menyentuh angka 164, masuk dalam kategori tidak sehat (151-200). TEMPO/Muhammad Hidayat

    Warga menggunakan masker saat berkendara di Kuningan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Indeks kualitas udara Jakarta menyentuh angka 164, masuk dalam kategori tidak sehat (151-200). TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -Belasan warga masyarakat yang mengikuti hari bebas kendaraan atau car free day (CFD) di Jalan Thamrin mengaku tak begitu merasakan dampak dari buruknya kualitas udara Jakarta akibat polusi udara.

    Mereka menjelaskan udara yang terasa pada Ahad pagi, 7 Juli 2019 sama seperti di hari-hari sebelumnya.

    Baca : Polusi Udara di Jakarta Bertambah, Sebagian Warga di CFD Resah

    "Sama aja, sih. Saya ngerasanya (seperti hari biasa). Mungkin kotor atau ga sehatnya di kawasan yang dekat pabrik," ujar Andika Surya, warga Sunter, Jakarta Utara, saat tengah berolahraga di CFD yang ditemui Tempo.

    Andika mengatakan selama ini tak memiliki masalah kesehatan apapun, khususnya pada pernapasan. Di rumahnya pun Andika menjelaskan tak ada keluarga yang sakit pada pernapasan.

    Pernyataan serupa juga disampaikan Isna Cahya, warga Kalibata, Jakarta Selatan. Ia mengaku belum merasakan langsung buruknya kualitas udara di Jakarta.

    "Tapi kalau sekarang kerasanya lebih panas aja, padahal masih pagi. Mungkin masyarakat harus lebih banyak pohon dan ngurangin naik kendaraan pribadi," ujar Isna.

     Suasana langit di dekat Stadion Gelora Bung Karno yang penuh dengan polusi udara di Jakarta, 27 Juli 2018. Menjelang berlangsungnya Asian Games 2018, masih banyak pekerjaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membenahi Jakarta. Salah satunya masalah polusi udara. REUTERS/Beawiharta

    Dari data penunjuk kualitas udara milik Dinas Lingkungan Hidup di Bundaran HI, udara Jakarta pagi ini berada di level sedang atau satu tingkat di bawah sehat. Dalam alat pemantau kualitas udara di Bundaran HI terlihat kandungan PM 10 berada di angka 61 µgram/m3 atau sedang.

    Dikutip dari laman resmi bmkg.go.id, PM10 atau Partikulat adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer), contoh dari PM10 adalah debu jalanan. Nilai Ambang Batas (NAB) PM10 adalah 150 µgram/m3.

    Pada pekan lalu, situs penyedia peta polusi udara AirVisual mencatat bahwa DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia. Laman AirVisual menyebutkan bahwa Air Quality Index-nya (AQI) memiliki nilai 208 per Rabu pagi, 26 Juni 2019 pukul 08.33 yang artinya udara di Jakarta sangat tidak sehat.

    Baca : Polusi Udara Terburuk, Jakarta Hanya Punya 8 Pemantau Udara

    Setelah Jakarta, ada kota Lahore di Pakistan, Hanoi di Vietnam, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Wuhan di China yang masuk lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi dunia.

    Namun meskipun udara Jakarta sempat menjadi yang terburuk terkait polusi udara, warga tetap berbondong memadati momen CFD.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.