Hujan Buatan Dikritik Greenpeace, Anies: Suruh BPPT Jawab

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas berusaha menabur garam ke awan untuk membuat hujan buatan di langit Dumay, Riau, (1/7). Pembuatan hujan buatan ini karena masih ditemukan beberapa titik api dalam kebakaran lahan gambut. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Sejumlah petugas berusaha menabur garam ke awan untuk membuat hujan buatan di langit Dumay, Riau, (1/7). Pembuatan hujan buatan ini karena masih ditemukan beberapa titik api dalam kebakaran lahan gambut. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan menanggapi kritik banyak pihak, termasuk Greenpeace, mengenai hujan buatan untuk halau polusi udara Jakarta. Menurut Anies, rencana hujan buatan tak pernah terlontar darinya. 

    Baca: Hujan Buatan Anies Baswedan, Greenpeace Beri Kritik Tajam

    "Saya nggak pernah ngomong soal hujan buatan, tanya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) aja tuh, suruh BPPT yang jawab. Saya belum komentar dulu," ujar Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019. 

    Sebelumnya, BPPT mengatakan Pemprov DKI berencana mengadakan hujan buatan pada bulan ini untuk mengatasi polusi udara. BPPT mengklaim, rencana yang dibahas bersama Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) itu sudah mendapat restu dari Anies. 

    Akan tetapi Anies mengatakan BPPT "offside" karena telah mengumumkan rencana itu tanpa persetujuannya. Sebab, menurut Anies, sampai saat ini rencana hujan buatan masih digodok. 

    Rencana hujan buatan untuk membersihkan udara Jakarta dari polutan itu juga mendapat kritik dari lembaga swadaya masyarakat Greenpeace Indonesia. Greenpeace menilai rencana tersebut tak tepat sasaran dalam mengatasi polusi udara di Jakarta. 

    Juru Kampanye Iklim dan Energi Green Peace Indonesia, Bondan Ariyanu, memaparkan data sumber pencemaran udara di Jakarta hasil kajian Breath Easy Jakarta pada tahun 2013. Dari data itu, terlihat sumber pencemaran udara paling besar berasal dari kendaraan 46 persen dan pabrik 28 persen. Sumber pencemaran dari pabrik diproyeksikan akan bertambah besar seiring bertambahnya kebutuhan manusia. 

    Bondan mengatakan Pemprov DKI seharusnya melakukan perencanaan yang matang sebelum mewacanakan hujan buatan itu. Sebab, hujan buatan tak akan secara instan menghilangkan tingkat polusi udara di Jakarta. Apa lagi, hujan buatan juga menelan biaya yang tak sedikit. 

    Jasa Teknologi Modifikasi Cuaca atau hujan buatan memerlukan dana Rp 124,82 juta per hari. Ada juga biaya studi kelayakan pelaksanaan TMC atau hujan buatan senilai Rp 25 juta per laporan.

    Baca: Atasi Polusi Udara Jakarta, Anies Setuju Hujan Buatan Juli Ini 

    Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Tri Handoko Seto mengutarakan biaya penerapan modifikasi cuaca alias hujan buatan di Jakarta akan disiapkan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.