Begini Cerita Pencari Suaka dari Afganistan Sampai ke Kalideres

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pencari suaka berada dalam bus saat akan dipindahkan dari trotoar kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019. Pemberian bantuan kepada para pencari suaka sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Sejumlah pencari suaka berada dalam bus saat akan dipindahkan dari trotoar kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019. Pemberian bantuan kepada para pencari suaka sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri. ANTARA/M Risyal Hidayat

     
    TEMPO.CO, Jakarta - Ini adalah kisah para pencari suaka yang masuk ke Indonesia. Sebagian kecil dari mereka kini ditampung di bekas Gedung Kodim, Perumahan Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat. Sama seperti sebagian besar lainnya, mereka sama tak jelas menyongsong nasib mereka untuk bisa mencapai negara yang dituju: Australia.
     
    "Indonesia menjadi negara transit karena dekat dengan Australia," kata Anisa asal Afganistan, seperti dikutip dari Koran Tempo edisi Rabu 24 Juli 2019.
     
    Perempuan berusia 34 tahun itu mengisahkan membawa serta putrinya meninggalkan tanah kelahiran mereka yang dilanda peperangan. Ibunya sudah tewas terbunuh. Suaminya, Khaleed, diyakini sudah lebih dulu sampai di Indonesia. Itu sebabnya dia menyusul dua tahun lalu dengan modal uang hasil jual mobil. 
     
    Anisa mengaku sampai di Indonesia sekitar 6 bulan lalu. Sebelumnya ia transit berkali-kali di berbagai negara, seperti India, Malaysia dan Singapura. Di India, Anisa sempat bekerja serabutan demi membayar upah agen dan diterbangkan ke Indonesia. "Setiap sampai satu negara, harus bayar lagi," ujarnya.
     
    Sampai Indonesia tak membuat Anisa bisa langsung bersatu lagi dengan Khaleed. Keduanya terpisah antara Jakarta dan Serpong (Tangerang Selatan). Tak sebanding jauhnya dengan perjalanan yang sudah ditempuhnya, tapi registrasi yang berbeda di UNHCR membuat keduanya tetap terpisah. 
     
    Akhirnya Anisa dan anaknya bertahan di Jakarta menggunakan uang tersisa. Ia berharap segera mendapat kepastian suaka setelah mendaftar di UNHCR. "Ternyata hanya dapat ID tapi lalu sudah tidak dapat bantuan apapun dan diminta menunggu," ujar Anisa.
     
    Pencari suaka beraktivitas di dekat tenda yang didirikan di trotoar jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu 10 Juli 2019. Pencari suaka yang berasal dari sejumlah negara seperti Somalia, Sudan, Pakistan dan Afganistan yang saat ini masih berkemah di sepanjang trotoar jalan Kebon Sirih akan dipindah ke Masjid Raya Jakarta Islamic Center. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
     
    Karena tak lagi punya uang maka ia bergabung dengan banyak pencari suaka lain yang tinggal di trotoar. Sampai akhirnya dipindahkan ke penampungan sementara oleh Pemprov DKI ke Kalideres pada 11 Juli 2019.
     
    Tak jauh berbeda dengan Anisa, Ali Nazari juga mengaku datang ke Indonesia melalui agen. Ia membayar sekitar US$ 8 ribu. "Sempat transit Thailand dan Malaysia," kata lelaki asal Afganistan itu. Ali mengaku baru sebulan menetap di trotoar Jalan Kebon Sirih sebelum akhirnya dipindahkan ke Kalideres.
     
    Sejak 2017, Ali, istri dan ketiga anaknya tinggal di Cisarua, Bogor. Mereka tinggal mengontrak rumah bersama dengan keluarga lain sesama imigran asal Afganistan. Setiap bulannya mereka berbagi kewajiban membayar uang sewa, listrik dan makan. "Alhamdulillah orang tua saya di Afganistan rutin mengirim uang," katanya.
     
    Ditanya alasan ia memilih 'ngemper' di trotoar, Ali menunjuk ke UNHCR. Ia mengira kejelasan suaka untuk keluarganya telah diputuskan. "Ternyata hanya didata ulang kemudian diminta menunggu lagi, sementara uang sudah habis."
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.