Polisi Tangkap Guru Madrasah Pelaku Pencabulan terhadap Murid

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian Resor Jakarta Utara Komisaris Besar Budhi Herdi Susianti bersama jajaran Lembaga Perlindungan Anak Indonesia saat konferensi pers di kantornya pada Jumat, 26 Juli 2019. TEMPO/Adam Prireza

    Kepala Kepolisian Resor Jakarta Utara Komisaris Besar Budhi Herdi Susianti bersama jajaran Lembaga Perlindungan Anak Indonesia saat konferensi pers di kantornya pada Jumat, 26 Juli 2019. TEMPO/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah di daerah Penjaringan, Jakarta Utara bernama Djunaidi, 53 tahun, ditangkap polisi lantaran melakukan pencabulan terhadap muridnya, Mawar, bukan nama asli, yang masih berusia 10 tahun.

    Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Budhi Herdi Susianto menyebut Junaedi merupakan guru olah raga di sekolah tersebut. "Kasus ini sebenarnya terjadi dua bulan lalu tapi baru terungkap kemarin pas Hari Anak tanggal 23 Juli 2019," kata dia dalam konferensi pers di kantornya, Kamis, 26 Juli 2019.

    Budhi menjelaskan pengungkapan kejadian ini berawal saat Mawar enggan berangkat sekolah. Orang tuanya kemudian mendesak bocah itu untuk mengungkap alasannya. Di situ, Mawar baru menceritakan kalau dirinya dicabuli oleh Djunaidi. Ia mengaku sudah dicabuli sebanyak enam kali oleh pria yang telah memiliki anak dan cucu itu.

    Orang tua Mawar pun melapor ke Polres Jakarta Utara. Dari hasil visum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati terlihat ada bekas luka pada kemaluan korban dan tanda kekerasan.

    Kepada polisi, kata Budhi, Djunaidi mengaku perilaku bejatnya itu ia lakukan saat mata pelajaran olah raga. Ia memisahkan antara murid laki-laki dan perempuan. Murid laki-laki ia suruh praktik olah raga di luar kelas, sementara perempuan di dalam.

    Saat itu, ia tengah memberikan pelajaran teori dan praktik senam lewat video yang diputar di laptop-nya. Namun, ia justru memutar film horor yang tak ada hubungan dengan pelajaran yang diampunya. "Saat itu kemudian dia mendekati korban dan membuka celananya. Pelaku mulai meraba-raba mulai dari payudara sampai kemaluan korban," kata Budhi.

    Budhi pun menyampaikan Djunaidi dikenal sebagai guru yang tempramen dan sering kasar terhadap murid. Hal itu yang membuat anak-anak tertekan dan menuruti saja apa kemauan pelaku. Ia pun mengancam Mawar terkait nilai pelajarannya jika berontak.

    Atas kejadian pencabulan itu, polisi memproses Djunaedi dengan Pasal 85 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Budhi mengatakan polisi bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dalam mengungkap kasus ini. "Kami akan mendalami apakah ada selain Mawar yang menjadi korban dari pelaku ini," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?