Penyelundupan Narkoba ke Indekos, Polisi Sita 10 Kg Sabu di Jakut

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajaran Kepolisian Resor Jakarta Utara saat mengungkap penyelundupan narkoba jenis sabu ke indekos, Selasa 6 Agustus 2019. Tempo/ Muh Halwi.

    Jajaran Kepolisian Resor Jakarta Utara saat mengungkap penyelundupan narkoba jenis sabu ke indekos, Selasa 6 Agustus 2019. Tempo/ Muh Halwi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Budhi Herdi Susianto mengungkap penangkapan tersangka pengedar narkoba dengan barang bukti 10 kilogram sabu. Narkoba itu diselundupkan ke kamar kos yang disewa tapi tak dihuni di Kompleks Pertamina, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja.

    Tersangka adalah Denny Alamsyah. Polisi meringkusnya setelah mendapat informasi dari pemilik indekos pada 27 Juli lalu. "Pemilik curiga karena setelah bayar uang kontrakan, tersangka masukkan barang tapi tidak kembali," kata Budhi di kantornya, Selasa 6 Agustus 2019.

    Budhi menuturkan Denny selama tiga hari tidak menempati indekos tersebut. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mengetahui bahwa Denny merupakan warga Cilincing.

    Polisi lalu menangkap Denny di kediamannya di sebuah indekos yang lain di Jalan Cilincing Sungai Landak. Polisi juga menyita barang bukti berupa 20 bungkus plastik isi sabu yang masing-masing beratnya 100 gram.

    "Setelah penemuan di TKP pertama kemudian dilakukan pengembangan. Akhirnya dicek di kos dan setelah digeledah ditemukan sabu sebanyak delapan kilogram yang dibungkus paket kapasitas satu kilogram," ujarnya.

    Menurut polisi, narkoba jenis sabu itu akan diedarkan di kawasan Jakarta Utara. Polisi masih melakukan pengembangan terkait dari mana tersangka mendapatkannya. Denny kini dijerat Pasal 114 Ayat 2 Subsider Pasal 112 Ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman seumur hidup.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.