Selasa, 24 September 2019

MRT Jakarta Belajar Operasional Kereta dari Korea

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana stasiun MRT Bundaran HI, Ahad, 31 Maret 2019. Tempo/Adam Prireza

    Suasana stasiun MRT Bundaran HI, Ahad, 31 Maret 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta menjalin kerja sama dengan Seoul Metro untuk menambah wawasan mengenai pengembangan kapasitas operasi dan pemeliharaan kereta api perkotaan. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyebut Seoul Metro merupakan operator kereta dari Korea yang mengelola delapan jaringan dengan panjang jalur mencapai 340 kilometer.

    "Kami menganggap perlu mendapatkan pengetahuan dari keandalan operasional mereka terutama terkait penggunaan teknologi data raksasa (big data) dalam aspek operasional stasiun dan menjalankan rangkaian kereta,” kata William seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 15 Agustus 2019.

    William mengharapkan kerja sama ini dapat meningkatkan kompetensi dalam mengoperasikan kereta moda raya terpadu (MRT). Ada empat lingkup kerja sama, yaitu eksplorasi pengembangan pengoperasian dan pengelolaan pusat kendali operasi (OCC), pengembangan kemampuan perawatan rolling stock dan depo, pengembangan pengetahuan Smart Automatic Mechanical Big data Analysis-system (SAMBA) dan smart station, serta pengelolaan automatic fare collection (AFC).

    "Rencananya nota kesepahaman ini akan berlaku selama dua tahun ke depan," kata William.

    Ia menyampaikan Seoul Metro sebelumnya meraih penghargaan Operational and Technological Excellence dari Union Internationale des Transports Publics (UITP). Penghargaan ini untuk proyek bernama 'Introducing Observer Pattern-based system for failure prediction of railway facilities (SAMBA)'. Nota kesepahaman kerja sama ditandatangani oleh Direktur MRT Jakarta William dan Chief Executive Officer Seoul Metro, Taeho Kim.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.