Koalisi Pejalan Kaki Tantang Wali Kota Depok Bikin Trotoar Begini

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejalan kaki melintas di dekat deretan poster aksi yang dipasang Koalisi Pejalan Kaki di lokasi tragedi Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pejalan kaki melintas di dekat deretan poster aksi yang dipasang Koalisi Pejalan Kaki di lokasi tragedi Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus menantang Wali Kota Depok, Mohammad Idris untuk bisa menyajikan trotoar yang nyaman dan layak bagi pejalan kaki.

    Pasalnya, kata Alfred, Pemerintah Kota Depok saat ini dianggap tidak pernah mengurusi dengan baik fasilitas yang pro terhadap masyarakatnya.

    “Bisa dilihat sendiri dengan mata. Nggak usah jauh jauh didepan Balaikota Depok aja bagaimana kondisi trotoarnya,” kata Alfred dikonfirmasi Tempo, Kamis 15 Agustus 2019.

    Alfred mengatakan, sebagai warga depok yang gemar berkeliling wilayah di Indonesia menganggap, Kota Depok sebagai kota terfakir trotoar. “Untuk tingkat kota ya, kalau kabupaten wajar masih banyak pedesaan,” kata Alfred.

    Alfred mengatakan, sebagai kota satelit yang berada persis bersebelahan dengan DKI Jakarta, semestinya Kota Depok dapat berbenah utamanya terhadap fasilitas publiknya.

    “Mana ada fasilitas di Kota Depok baik itu trotoar, halte, zebra cross, JPO dan beberapa fasilitas lainnya yang layak,” demikian Alfred meluapkan kekesalan.

    Alfred pun menganggap, dengan kondisi yang masih dipertahankan hingga saat ini, masyarakat Kota Depok yang memilih untuk berjalan kaki harus menghadapi dua pilihan. “Kalau nggak meninggal, ya cacat seumur hidup, karena nggak ada lokasi jalan yang nyaman,” kata Alfred mewakili koalisi pejalan kaki di Kota Depok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.