Hujan di Bogor Saat Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hujan. REUTERS/Zoran Milich

    Ilustrasi hujan. REUTERS/Zoran Milich

    TEMPO.CO, Bogor - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait fenomena hujan yang terjadi sejak Kamis siang di wilayah Bogor. Hujan di Bogor itu turun cukup lebat dan terjadi saat sedang musim kemarau panjang.

    "Fenomena ini karena ada faktor regional yang menyebabkan hujan. Biasanya adanya perlambatan angin di sekitar khatulistiwa yang menyebabkan arah atau belokan angin di sekitar Jawa Barat dan Banten," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG di Cisarua, Asep Firman Ilahi, Kamis, 15 Agustus 2019.

    Perlambatan angin itu, kata Asep, yang membuat potensi pertumbuhan awan hujan menjadi tinggi sehingga hujan pun turun. Namun, ia menyebut hujan di sebagian wilayah Bogor ini bukan berarti tanda-tanda dari peralihan musim kemarau ke musim hujan.

    Asep menjelaskan bahwa peralihan musim bisa ditandai dengan adanya hujan secara berturut-turut selama 10 hari atau satu dasarian. "Hujan pertama di musim kemarau tidak berarti sudah memasuki musim hujan. Kriteria memasuki musim hujan menurut versi BMKG adalah ditandai dengan keadaan hujan berturut-turut selama satu dasarian, diikuti oleh dua dasarian berikutnya," ujarnya.

    Berdasarkan hasil prediksinya, musim hujan di wilayah Bogor baru akan terjadi pada akhir bulan September. Sedangkan musim hujan secara menyeluruh diperkirakan saat memasuki dasarian pertama bulan Oktober.

    Hujan yang turun pada Kamis siang itu mengguyur sebagian wilayah Bogor, diantaranya Kecamatan Pamijahan, Ciampea, Tenjolaya, Dramaga, Ciomas, dan Rancabungur. Hujan lebat juga turun pada Jumat malam kemarin di sebagian wilayah Bogor. Selain di Bogor, hujan deras turun di wilayah Depok. Bahkan sempat terjadi angin puting beliung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.