Sejarawan: Bekasi Sebaiknya Kembali ke DKI Jakarta

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Bekasi Rahmat Effendi (kanan) bersama Kepala Bagian Pengujian Laboratorium PT Sucofindo, Adisam ZN (kiri) dalam jumpa pers terkait temuan beras plastik di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. Kandungan yang terdapat dalam beras plastik akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Walikota Bekasi Rahmat Effendi (kanan) bersama Kepala Bagian Pengujian Laboratorium PT Sucofindo, Adisam ZN (kiri) dalam jumpa pers terkait temuan beras plastik di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. Kandungan yang terdapat dalam beras plastik akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bekasi - Sejarawan Bekasi Ali Anwar mengatakan gagasan Bekasi bergabung dengan DKI Jakarta merupakan gagasan lama. Menurut dia, Bekasi awalnya memang bagian dari Jakarta di era kolonial.

    "Bagi saya sebetulnya Bekasi itu kembali ke Jakarta, bukan bergabung," kata Ali di Bekasi, Senin, 19 Agustus 2019.

    Ali mengatakan, pada masa revolusi, Bekasi merupakan kewedanaan dari Kabupaten Jatinegara, Keresidenan Jakarta, Provinsi Jawa Barat. Kewedanaan Bekasi membawahi Kecamatan Bekasi, Cibitung, dan Cilincing.

    Tapi pada tahun 1950 Belanda mengklaim Bekasi sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat bentukan mereka. Atas desakan dari tokoh masyarakat setempat, Bekasi berkeinginan tetap bergabung dengan negara republik Indonesia. Ketika itu, di bagian barat Jawa, kata dia, ada Distrik Federal Jakarta dan Negara Pasundan.

    "Oleh pemerintah pusat kemudian Bekasi dimasukan ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat," kata dia.

    Selain dari akar sejarah, Ali menilai Bekasi juga tak bisa dipisahkan dari DKI Jakarta secara sosial budaya. Menurut dia, Bekasi memiliki kultur budaya Betawi karena dulunya menjadi bagian dari Jakarta.

    Itu sebabnya, kata dia, secara administrasi pemerintah Kota Bekasi lebih baik kembali Jakarta. Bakal banyak keuntungan yang didapat. Mulai dari APBD cukup besar, bisa mencapai Rp 70 triliun. Dibandingkan Bekasi hanya Rp 5 triliun.

    "Ditambah lagi Rp 5 triliun selesai urusan kesehatan, pendidikan, pembangunan. Kalau memang gabung ke Jakarta," kata dia.

    Ia membandingkan dengan Jawa Barat. Pendapatkan dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor cukup tinggi, kembali ke Bekasi cukup kecil. Karena itu, menurut dia, Bekasi lebih baik ke Jakarta. "Kalau nama, menurut saya tetap Kota Bekasi saja," kata dia.

    Wacana bergabungnya Bekasi ke DKI Jakarta dilontarkan Walikota Rahmat Effendi. Awalnya Bekasi diajak untuk masuk ke dalam provinsi baru Bogor Raya yang diprakarsai oleh Walikota Bogor Bima Arya. Namun Rahmat tampak kurang sreg dengan ajakan tersebut dan menyatakan bahwa Bekasi lebih baik bergabung dengan DKI Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.