Video Abdul Somad: Ada yang Tidak Masalah, Ada yang Sebut Jin

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ustad Abdul Somad. Instagram/@ustadzabdulsomad_official

    Ustad Abdul Somad. Instagram/@ustadzabdulsomad_official

    TEMPO.CO, Jakarta - Penceramah Abdul Somad dijadwalkan memberi klarifikasi terkait isi videonya yang berbicara tentang Salib Yesus yang diimani umat Kristen. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang untuk klarifikasinya yang kedua, setelah yang pertama diberikan melalui video, pada hari ini, Rabu 21 Agustus 2019.

    Video Abdul Somad tentang Salib Yesus memang mengundang sejumlah reaksi cukup luas. Sebagian menyayangkan isi video itu. Sebagian bahkan melaporkannya ke kepolisian atas tuduhan penistaan agama. Tapi tak sedikit yang menolak mempermasalahkannya.

    Di antara mereka adalah mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dia mengaku tak mempermasalahkan jika ada orang yang menghina lambang salib umat nasrani. Alasan Ahok, yang bersangkutan tidak mengerti tentang filosofi salib.

    “Bagi kami salib itu lambang kemuliaan Allah. Jadi kalau salib digituin oleh orang-orang yang tidak paham, bagi kami tidak masalah,” kata Ahok pada Senin, 19 Agustus 2019.

    Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah, Abdul Rohim Ghazali, termasuk yang menyayangkan isi video Abdul Somad. Namun, seperti Ahok, Rohim berpendapat apa yang diucapkan UAS tidak perlu ditanggapi.

    Muhammadiyah juga mengimbau agar masyarakat dapat mendoakan ustad yang sempat direkomendasikan menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto itu. "Anggap saja yang bicara juga jin," kata Rohim menggunakan istilah yang digunakan Abdul Somad dalam videonya itu.

    KOREKSI:
    Artikel ini telah diubah pada Kamis 22 Agustus 2019, pukul 06.22 WIB. Perubahan dilakukan pada judul karena pernyataan narasumber dari Muhammadiyah dianggap tidak mewakili organisasi oleh pengurus yang lain. Terima kasih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.