3 Poin Hasil Pertemuan Abdul Somad dan MUI

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Abdul Somad dalam konferensi pers setelah bertemu bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), di gedung MUI, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2019. MUI mengundang penceramah itu untuk mengklarifikasi atau tabayyun terkait video ceramah soal salib yang sedang viral. TEMPO/Subekti

    Ekspresi Abdul Somad dalam konferensi pers setelah bertemu bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), di gedung MUI, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2019. MUI mengundang penceramah itu untuk mengklarifikasi atau tabayyun terkait video ceramah soal salib yang sedang viral. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, JakartaAbdul Somad dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar pertemuan pada Rabu kemarin, 21 Agustus 2019. Dalam pertemuan tersebut mereka membahas masalah ceramah Somad yang viral di jagad maya dan dianggap menistakan agama Nasrani.

    Terdapat setidaknya tiga poin penting yang menjadi inti dari pertemuan tersebut. Berikut poin-poin itu:

    1. Hadis Multitafsir

    Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Masduki Baidlowi menyatakan bahwa Somad mengutip sebuah hadis dalam ceramahnya tiga tahun lalu. Menurut Baidlowi, penafsiran terhadap hadis yang dikutip Somad tersebut masih diperdebatkan di antara para ulama.

    "Soal patung itu misalnya, sebenarnya yang disampaikan Abdul Somad adalah sebuah hadis, ternyata kalau dalam kajian Islam hadis itu masuk dalam wilayah fiqhiyah yang bisa berbeda pendapatnya antara satu dengan yang lain," ujar Masduki.

    2. Tak Mau Masuk Ranah Hukum

    Masduki juga menyatakan MUI akan berupaya agar kasus Somad ini tak masuk ke ranah hukum. Sebelumnya Komunitas Horas Bangso Batak dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia telah mengadukan dosen Universitas Islam Negeri Riau itu ke Polda Metro Jaya dan Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

    Masduki menyatakan MUI akan berupaya melobi pemuka-pemuka agama lainnya agar laporan tersebut dicabut.

    "Misalnya GMKI yang sudah menyatakan keberatan sehingga melaporkan, GMKI itu kan kelompok Cipayung. Di dalamnya juga ada PMII, ada HMI, jadi ada organisasi kemahasiswaan yang lain," kata dia.

    "Harapannya supaya tidak ada gugatan balasan dari pihak yang lain. Kemudian kalau dicabut (laporan polisi yang sudah masuk) ya lebih bagus," kata Masduki.

    3. Tak Mau Minta Maaf

    Abdul Somad secara tegas menyatakan bahwa dirinya tak akan meminta maaf atas ceramahnya yang menyinggung kaum Nasrani tersebut. Dia kembali mengklarifikasi bahwa ceramahnya itu ditujukan hanya untuk kalangan muslim saja.

    Dia juga merasa tak melakukan penistaan agama karena ucapannya sesuai dengan ajaran Islam.

    "Saya menjelaskan tentang aqidah agama saya, dengan komunitas umat Islam, di dalam rumah ibadah saya, bahwa kemudian ada orang yang tersinggung dengan penjelasan saya, apakah saya musti meminta maaf?," ujarnya.

    MUI juga tampaknya tak mendesak Somad untuk meminta maaf meskipun akan berupaya agar kasus ini tak masuk ke ranah hukum.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.