Puncak Musim Kemarau, 57 Ribu Warga Bogor Krisis Air Bersih

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain di sungai Ciliwung yang mulai menyusut debit airnya saat musim kemarau di Kampung Kebon Jukut, Babakan Pasar, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 2 Juli 2019. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2019 sementara pada periode Juli-September sebagian besar wilayah memiliki curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal. ANTARA

    Anak-anak bermain di sungai Ciliwung yang mulai menyusut debit airnya saat musim kemarau di Kampung Kebon Jukut, Babakan Pasar, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 2 Juli 2019. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2019 sementara pada periode Juli-September sebagian besar wilayah memiliki curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal. ANTARA

    TEMPO.CO, Bogor - Sebanyak 57.580 jiwa dari 18.571 kepala keluarga di Kabupaten Bogor mengalami krisis air bersih akibat kekeringan pada musim kemarau panjang ini.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Yani Hassan mengatakan, sampai saat ini sudah ada 31 desa di 17 kecamatan di Kabupaten Bogor yang dilanda kekeringan.

    "Krisis air besih pada musim kemarau tahun ini sudah dirasakan 57.580 jiwa dari 18.571 kepala keluarga di 100 kampung di Kabupaten Bogor mengalami krisis air bersih," kata Kepala BPBD Kabupaten Bogor.

    Dia mengatakan, musim kemarau tahun ini sudah melanda 31 desa di 17 kecamatan dari 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor, diprediksi akan meluas ke wilayah lain sehingga jumlah warga yang mengalami krisis air bersih jumlahnya meningkat, 

    "Berdasarkan data dari BPBD Jawa Barat diprediksi wilayah yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih akan meluas karena puncak musim kemarau tahun ini hingga akhir Oktober 2019," kata dia.

    Khusus di Kabupaten Bogor, kecamatan yang dilanda kekeringan dan mengalami krisis air bersih adalah di Kecamatan Jonggol, Cariu, Tanjungsari, Gunungputri, Cileungsi, Cijeruk, Cigombong, Tamansari, Jasinga dan lainnya.

    "Prediksi jumlah kecamatan (terdampak kekeringan) bertambah, jumlah desa juga bertambah. Paling parah di Kecamatan Jonggol dan Parungpanjang, Tenjo menjadi kecamatan yang cukup parah di Kabupaten Bogor," ujar dia.

    Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Burhanuddin mengatakan Pemerintah Kabupaten Bogor tahun ini sudah membentuk tim koordinasi khusus menangani musim kemarau dan krisis air bersih,

    "Tim khusus penanggulangan kekeringan sudah dibentuk karena sudah 13 desa di Kabupaten Bogor dilaporkan sudah kekeringan, untuk itu warga dihimbau agar menghemat air," kata dia.

    Dia mengatakan dalam rapat koordinasi tebatas kebencanaan, bukan hanya membahas krisis air bersih akan tetapi ancaman kebakaran lahan dan hutan serta sawah puso, 
    "Kami sudah kumpulkan dari BMKG kepala SKPD terkait, BPBD, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Disdamkar, PMI, Dinas PUPR, semua yg terkait, untuk menangani kekeringan," kata dia.

    Menurut Burhanuddin, rapat koordinasi ini diharapkan agar bisa sinergi penanganan bencana kekeringan pada musim kemarau ini, mulai dari solusi jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang. "Pemkab Bogor sudah mendistribusikan 81 tangki atau sekitar 408.000 liter air bersih, langaung ke kampung-kampung yang mengalami krisis," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ratusan Ribu Orang Mengalami Gangguan Pernafasan Akibat Karhutla

    Sepanjang 2019, Karhutla yang terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan tak kunjung bisa dipadamkan. Ratusan ribu jiwa jadi korban.