Era Baru Terapi Berbasis Genetik

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rika Yuliwulandari, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas YARSI.

    Rika Yuliwulandari, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas YARSI.

    INFO METRO — Perkembangan teknologi kedokteran semakin maju pesat. Berbagai metode baru terus bermunculan, di antaranya tren pemeriksaan genetik untuk mengetahui profil genetik seseorang. Meski metode ini di luar negeri sangat maju, di Tanah Air masih belum terlalu dikenal.

    Salah satu pendekatan pemeriksaan gen yang terkait dengan pemilihan obat dan dosisnya adalah farmakogenomik. Sejatinya, farmakogenomik kian populer karena berperan dalam menyesuaikan pengobatan berdasarkan variasi genetik pada pasien. Farmakogenomik adalah salah satu aspek kunci dari era pengobatan baru yang dikenal dengan personalised medicine, yang menitikberatkan pada bagaimana DNA seseorang mempengaruhi tubuh dalam memproses dan merespons obat.

    Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas YARSI sekaligus ahli farmakogenomik, alumni Universitas Tokyo dan Kepala Pusat Penelitian Genetik Universitas YARSI, dr. Rika Yuliwulandari, Ph.D., mengatakan dengan personalised medicine dokter dapat memberi terapi kepada pasien dengan lebih presisi sesuai karakter genetik. Setiap individu, memiliki susunan genetik yang berbeda sehingga seseorang dapat memberikan respons yang berbeda untuk obat yang sama. Hal tersebut yang mempengaruhi hasil akhir pengobatan dan efek samping obat pada pasien.

    “Dulu istilahnya one drug fits all, namun faktanya one drug does not fit all. Pemeriksaan farmakogenomik mampu memberikan informasi bagaimana mengelompokkan individu berdasarkan kemampuan merespons obat, sehingga seseorang mendapatkan rekomendasi obat ataupun dosis obat yang paling sesuai untuk dirinya. Inilah wujud nyata dari personalised medicine,” ujar Rika.

    Jenis layanan farmakogenomik bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu preemptive (sebelum kejadian) dan post- emptive (sesudah). Contoh layanan preemptive paling populer misalnya tes gen HLA-B*15:02 sebelum meresepkan carbamazepine. Preemptive test bisa juga ditujukan untuk mengetahui karakter genetik seseorang saat medical check up, sehingga dokter sudah mempunyai informasi awal sebelum meresepkan obat.

    Sedangkan, post-emptive test dilakukan setelah dokter menerima umpan balik dari pasien. Misalnya, setelah pasien mengeluh bahwa obat yang diresepkan tidak manjur atau menimbulkan efek samping tertentu. Kemudian, dokter melakukan tes genetik terkait keluhan dari pasien.

    Pemeriksaan genetik juga bisa diarahkan untuk mendeteksi berbagai potensi masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular, alzheimer, kanker, asma, dan sebagainya. Sehingga, dengan deteksi dini penyakit tersebut, seseorang dapat menyesuaikan gaya hidup, pola makan, dan langkah-langkah preventif lainnya sejak dini untuk mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan tersebut. Pemeriksaan genetik juga dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan metabolisme seseorang terhadap suatu zat gizi (lebih dikenal dengan nutrigenomic) atau untuk mengetahui kondisi penuaan kulit seseorang (skin genomic).

    Layanan pemeriksaan genetik tidak bisa dianggap sepele. Selain meningkatkan keberhasilan pengobatan, genetic testing berperan menyelamatkan nyawa pasien dari efek samping obat yang serius seperti Sindrom Steven-Johnson (SJS).

    Keuntungan lainnya, dengan pemberian jenis dan kadar obat yang tepat tentu menghemat biaya yang harus dikeluarkan pasien. Di Indonesia, farmakogenomik berpotensi besar untuk berkembang. Oleh karena itu, Rumah Sakit YARSI bekerja sama dengan Pusat Penelitian Genetik Universitas YARSI, meluncurkan Indonesia Centre for Personalised Medicine and Wellness dengan layanan unggulan YARSI Pharmacogenomic (PGx) Test. Dengan fasilitas terbaru dan SDM unggul, pemeriksaan genetik tidak perlu dikirim ke luar negeri, tetapi dapat dilakukan di RS YARSI. Layanan lainnya berupa Skin DNA test dan nutrigenomic test sedang dalam proses penyempurnaan. Langkah ini menjadi komitmen RS YARSI dalam memberikan layanan pengobatan terbaik berdasarkan profil genetik sekaligus menjadi pionir dalam personalised medicine di Indonesia. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.