Puncak Kemarau, DKI Pantau 15 Kecamatan Status Awas Kekeringan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan warga antre air bersih yang didistribusikan melalui mobil tangki di Rumah Susun Tambora, Jakarta, (5/9). Penyaluran air bersih diperkirakan akan normal beberapa hari ke depan.  ANTARA/M Agung Rajasa

    Ratusan warga antre air bersih yang didistribusikan melalui mobil tangki di Rumah Susun Tambora, Jakarta, (5/9). Penyaluran air bersih diperkirakan akan normal beberapa hari ke depan. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menyiapkan bantuan air bersih untuk mengantisipasi kekeringan di ibu kota pada puncak kemarau tahun ini. BPBD mencatat setidaknya ada 15 kecamatan berstatus awas dan tujuh kecamatan berstatus siaga kekeringan.

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Subejo mengatakan, pihaknya terus memantau wilayah-wilayah yang diprediksi akan terdampak kekeringan ini. "Di setiap kecamatan ada yang bertanggung jawab memonitor," kata dia, Selasa, 3 September 2019.

    Selain itu, kata Subejo, BPBD berkoordinasi dengan sejumlah SKPD lain untuk kesiapan unit bantuan. Total ada 63 unit mobil tangki air dan 134 tandon air yang disiapkan.

    Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, kata Subejo, bisa berkoordinasi dengan perangkat desanya atau langsung melapor ke call center 112. Setelah laporan diterima, BPBD akan melakukan verifikasi data wilayah dan alamat dengan kelurahan dan kecamatan setempat. "Kemudian dilanjut koordinasi dengan PAM Jaya untuk pengiriman bantuan," kata dia.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi sepanjang September 2019. "Agustus dan September kami prediksi merupakan puncak dari periode musim kemarau," kata Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

    Meski sempat diguyur hujan ringan pada Selasa, 27 Agustus lalu di wilayah Jakarta Selatan, ibu kota masih berada di puncak musim kemarau. Menurut Adi, hujan kemarin merupakan dampak dari gangguan atmosfer di atas equator skala luas yang bergerak dari lautan India hingga Pasifik alias Madden Julian Oscillation (MJO) fase 3. Menurut Adi, hujan yang terjadi bersifat lokal atau hanya di titik tertentu saja di Jakarta Selatan, seperti Tebet.

    BMKG juga memperkirakan kemarau panjang menyebabkan empat wilayah di Jakarta berpotensi kekeringan di level awas merah. Potensi kekeringan terjadi karena curah hujan yang cukup rendah di empat wilayah tersebut, yakni berkisar di angka 1-20 mm per dasarian atau sepuluh hari. Padahal, normalnya curah hujan adalah 50 mm per dasarian.

    Adapun wilayah yang diprediksi akan mengalami kekeringan adalah Jakarta Pusat yang meliputi Menteng, Gambir, Kemayoran, dan Tanah Abang; Jakarta Timur meliputi Halim Perdanakusumah, Pulogadung, Cipayung; Jakarta Selatan meliputi Tebet, PasarMinggu, dan Setiabudi; serta Jakarta Utara yang meliputi Cilincing, Tanjung Priok, Koja, Kelapa Gading, dan Penjaringan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.