Keluh dan Saran Pengguna Transjakarta di Hari Pelanggan Nasional

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang Transjakarta berjaga di depan gerbang tap-in tiket di shuttle Ragunan saat pemadaman listrik massal di Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2019. Pemadaman ini juga membuat operasional KRL Jabodetabek dan MRT terganggu. TEMPO/Charisma Adristy

    Penumpang Transjakarta berjaga di depan gerbang tap-in tiket di shuttle Ragunan saat pemadaman listrik massal di Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2019. Pemadaman ini juga membuat operasional KRL Jabodetabek dan MRT terganggu. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada Rabu, 4 September 2019, para pengguna Transjakarta menyampaikan keluhan dan harapan untuk perusahaan transportasi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu. Waridi, 34 tahun mempermasalahkan nilai minimal top up tiket elektronik sebesar Rp 20 ribu.

    "Kalau bawa uangnya hanya Rp 10 ribu bagaimana? Enggak bisa naik dong," kata Waridi saat ditemui Tempo di Halte Bundaran HI, Rabu, 4 September 2019.

    Waridi meminta Transjakarta menurunkan minimal top up agar ramah terhadap masyarakat menengah ke bawah. Menurut dia, angka minimal Rp 10 ribu merupakan nilai yang tepat untuk diterapkan.

    Pengguna Transjakarta lain, Najwa, 17 tahun menilai jenis tiket yang disediakan harusnya juga bisa dibeli secara tunai. Saat ini, halte-halte Transjakarta hanya menjual kartu elektronik.

    Menurut Najwa, masih banyak warga yang tidak ramah dengan kartu. Begitu pun bagi turis yang datang ke Ibu Kota. "Jangan dibatasi. Kadang-kadang ada turis ke sini mau pakai Transjakarta bagaimana?," kata dia.

    Najwa juga menyoroti perilaku petugas layanan bus Transjakarta yang kadang tidak ramah dengan pengguna. Dia masih sering mendapati perilaku kasar dari petugas.

    "Misalkan ada bangku prioritas yang diduduki orang, kemudian ada nenek-nenek masuk, petugasnya kayak kasar banget bangunin orangnya, kalau bisa ya biasa saja," ujar Najwa.

    Ia pun mengkritik sejumlah halte yang masih kekurangan marka atau petunjuk jalan bagi pengguna. Salah satunya di halte Blok M.

    Menurut Najwa, halte tersebut kerap padat. Namun, jumlah petugas Transjakarta disebut sangat sedikit sehingga situasi kerap kurang kondusif dan tertib.

    Sementara itu, George, 55 tahun, mempermasalahkan waktu kedatangan bus Transjakarta yang masih sering molor. Ia memahami bahwa jalur busway masih sering terjebak macet. "Maka harusnya Pemerintah DKI bisa mengantisipasi, jalur ini harusnya steril," kata dia.

    Dalam rangka hari Pelanggan Nasional, PT Transjakarta menggelar sejumlah kegiatan. Diantaranya direksi melakukan pelayanan langsung kepada pelanggan dan pembuatan TJ Card.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.