Warga Tebet Protes Keberadaan Pencari Suaka

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pencari suaka bersantai di Tempat Penampungan Sementara, Kalideres, Jakarta, Senin, 2 September 2019.  ANTARA/Rivan Awal Lingga

    Sejumlah pencari suaka bersantai di Tempat Penampungan Sementara, Kalideres, Jakarta, Senin, 2 September 2019. ANTARA/Rivan Awal Lingga

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga di kawasan Asem Baris Raya, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, mengeluhkan keberadaan pencari suaka di sana. Mereka mengeluhkan perilaku para pengungsi yang kerap bertindak sesuka hati dan tak disiplin dalam menjaga lingkungan.

    Panca, seorang warga yang Tempo temui menyatakan bahwa para pencari suaka tersebut kerap berkumpul di sejumlah titik di sekitar Jalan Asem Baris. Yang menjadi masalah, menurut dia, mereka kerap membuang sampah sembarangan.

    "Mereka ngumpul nih di depan pangkas rambut sambil makan roti, abis itu udah sampahnya ditinggal begitu aja," ujarnya, Rabu 4 Agustus 2019.

    Sejak awal bulan September ini, para pencari suaka memang berduyun-duyun datang ke kawasan Tebet untuk mengambil uang bantuan di kantor sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berada di bawah naungan United Nation High Commisioners for Refugee (UNHCR) Indonesia.

    Mereka mendapatkan bantuan setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan seluruh jenis bantuan sejak akhir Agustus lalu. Para pengungsi itu sebelumnya mendiami bekas Gedung Kodim, Kalideres, Jakarta Barat dan berjumlah ribuan orang.

    Dalam sehari, Panca mengatakan jumlah pengungsi yang datang untuk mengambil bantuan uang di kantor UNHCR mencapai puluhan orang. Sambil menunggu nama mereka dipanggil oleh petugas, para pengungsi kerap menunggu di sekitar Jalan Asem Baris.

    Selain kebersihan, warga juga memprotes kelakuan pencari suaka yang dinilai seenaknya. Seperti menyeberang jalan sembarangan, memberhentikan mobil, hingga memarkirkan kendaraan tak pada tempatnya.

    "Pernah mereka pesen taksi online, mobilnya udah datang, tapi mereka malah ngobrol dulu sampai setengah jam sama teman-temannya. Kan bikin macet," kata Deki, satpam Klinik Fakhira.

    Deki juga pernah memarahi pencari suaka yang menggunakan ruang tunggu klinik untuk nongkrong. Menurut dia, hal itu mengakibatkan pasien yang ingin berobat terganggu dan tak dapat tempat duduk.

    Cerita lain soal pencari suaka datang dari Ledi, warga Kebon Baru. Ia menuturkan sejak awal bulan ini beberapa pencari suaka mulai tinggal di kontrakan sekitar rumahnya. Namun baru berjalan beberapa hari, Ledi mengeluhkan kelakuan pengungsi yang tak bisa menjaga kebersihan lingkungan.

    "Mereka bawa sampah seplastik besar, abis itu mereka taruh di pinggir jalan," ujar Ledi.

    Dari pantauan Tempo di lokasi pada Rabu siang, kantor UNHCR di Kebon Baru terlihat sepi. Pagar di kantor tersebut juga tertutup rapat. Warga menuturkan kantor itu ramai oleh pengungsi hanya pada pagi hingga siang.

    Protes serupa sebenarnya sempat terjadi ketika para pengungsi dari berbagai negara tersebut ditempatkan di Gedung eks-Kodim di Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat. Warga sekitar sempat memasang spanduk yang isinya menolak keberadaan mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.