Sopir Bajaj pun Jadi Korban Pemalakan Massal di Tanah Abang

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menenteng belanjaan seusai berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Ahad, 26 Mei 2019. Pasar Tanah Abang dipenuhi pengunjung yang berbelanja kebutuhan busana untuk Hari Raya Idul Fitri. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Pengunjung menenteng belanjaan seusai berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Ahad, 26 Mei 2019. Pasar Tanah Abang dipenuhi pengunjung yang berbelanja kebutuhan busana untuk Hari Raya Idul Fitri. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemalakan massal di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak hanya dialami pemilik kendaraan pribadi yang parkir di sana. Angkutan umum mulai dari bajaj sampai angkot pun menjadi sasaran pemalakan oleh preman jika parkir di kawasan tersebut.

    Salah seorang sopir bajaj, Suripto, menceritakan pemalakan terhadap pengemudi, baik pribadi maupun angkutan umum sudah ada sejak lama. Bahkan, dari tahun 2002, pengemudi berusia 50 tahun itu, mengaku selalu membayar setiap kali parkir di badan jalan.

    "Setiap parkir dan dapat penumpang bayar Rp 2 ribu sama preman," kata Suripto saat ditemui di kawasan Pasar Tanah Abang, Sabtu, 7 September 2019.

    Suripto mengatakan setiap angkutan, jika mau aman mesti membayar kepada para preman yang ada di setiap titik pangkalan angkutan umum. Jika pengemudi tidak membayar, kata dia, maka bakal diusir dan tidak boleh parkir kembali di pinggir jalan.

    "Mereka bisa gebrak-gebrak mobil saya kalau tidak ngasih. Saya cari aman saja. Saya anggap kasih uang rokok mereka," kata Suripto.

    Suripto pun berharap keadaan pasar Tanah Abang bisa bebas dari preman dan pemalakan. Sebab, menurut dia, selama ini pasar Tanah Abang dikuasai oleh preman-preman yang kerap mengutip uang dari pengemudi angkutan umum maupun pedagang. "Petugas seperti tidak ada. Harapan saya ada pengawasan," ujarnya.

    Aksi pemalakan massal di Tanah Abang sebelumnya menjadi viral di media sosial. Dua orang yang menjadi korban pemalakan pun melaporkan kejadian itu ke polisi. Pada 5 September 2019, korban sedang mengendarai kendaraannya untuk keluar dari Blok F Pasar Tanah Abang. Sekitar pukul 15.00 WIB, belasan orang sudah menunggu di pintu keluar Blok F. Mereka lalu meminta uang kepada korban.

    Pemalakan massal juga pernah dialami, Wardani, 27 tahun dan keluarganya usai memarkir mobilnya di Blok F Pasar Tanah Abang. "Dua tahun lalu saya pernah mengalami pemalakan oleh puluhan pemuda seperti juru parkir liar," kata dia.

    Modus para juru parkir liar itu, kata Wardani, adalah meminta uang dari kendaraan yang baru keluar dari lahan parkir Blok F. Setelah kendaraan keluar, satu per satu tukang parkir itu memalak uang pengendara dengan dalih telah memberi ruang untuk kendaraan tersebut keluar.

    Hal yang membuat tidak nyaman dari aksi pemalakan massal itu, kata Wardani, setelah satu orang diberi duit, yang lainnya bakal mengikuti dan meminta kutipan secara bergantian. Jika tidak diberikan para pemalak terus akan terus menggedor-gedor mobil sampai diberikan. "Waktu itu saya diikutin sampai belokan K.S. Tubun. Saya sampai tiga kali ngasih. Waktu itu kondisinya sedang macet juga," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.