TPA Bantargebang Jadi Sorotan Dunia, Begini Sejarahnya

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wajah tampan Leonardo DiCaprio ternyata tak tertutup usianya yang sudah menginjak 43 tahun. Ketampanan pemeran Hugh Glass dalam film The Revenant membuatnya ia banyak digandrungi wanita cantik. Ia berulang kali berganti pacar. Terakhir ia dikabarkan mejalin hubungan dengan mantan kekasih Jaden Smith yang bernama Sarah Snyder. Getty Images

    Wajah tampan Leonardo DiCaprio ternyata tak tertutup usianya yang sudah menginjak 43 tahun. Ketampanan pemeran Hugh Glass dalam film The Revenant membuatnya ia banyak digandrungi wanita cantik. Ia berulang kali berganti pacar. Terakhir ia dikabarkan mejalin hubungan dengan mantan kekasih Jaden Smith yang bernama Sarah Snyder. Getty Images

    TEMPO.CO, Bekasi - Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Bantargebang milik Pemprov DKI Jakarta di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi belakangan menjadi sorotan dunia. Ini setelah National Geographic memposting foto gunungan sampah seluas 110 hektar di akun resmi instagrmnya @natgeo.

    Postingan akun yang memiliki pengikut 120 juta diposting ulang oleh aktor holywood yang juga pegiat lingkungan sekaligus pemeran Jack dalam film Titanic, Leonardo Dicaprio. Dalam postingannya, National Geographic menyebut bahwa TPA Bantargebang terbesar di dunia.

    "Pemulung sedang mengumpulkan plastik dari sampah rumah tangga di tempat pembuangan Bantar Gebang, Jakarta, Indonesia. Tempat ini dianggap sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di dunia. Januari 2019." Tulisnya di Instagram @leonardodicaprio.

    Walhasil, netizen dari berbagai belahan dunia mengomentari postingan itu. Netizen asal California, Amerika Serikat, @gajinwilk berkomentar "Hey Leo why don’t you use some of your money to help clean up the world instead of posting about it. Obviously we don’t have the funds it take to make a noticeable difference; so how is posting stuff like this gonna help anything if there is no action in place?"

    Seorang warga London, Inggris dengan akun @fairplaytobers memberikan komentar "I've 'liked' this but only because I think that it's an important act of fighting for the Earth that the man is doing. One that we would rather not think about or acknowledge".

    Akun @iamdisma memberikan komentar "That's the 2nd reason why the capital city of Indonesia have to move"

    Mengutip buku "Konflik Sampah Kota", karya Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, TPA Bantargebang ada sejak tahun 1985. Lokasinya berada di Kelurahan Cikiwul, Sumurbatu, dan Ciketingudik. Dulunya, lokasi ini merupakan galian-galian besar yang ada sejak 1978. Tanahnya diambil untuk proyek properti di Jakarta seperti Sunter Podomoro dan Kelapa Gading di Jakarta Utara.

    Pemerintah DKI Jakarta, ketika itu dipimpin Gubernur Soeprapto membeli lahan itu dari dua pemiliknya, Kurnia seluas 100 hektar dan Zaelani Zein 15 hektar. Tentunya keduanya senang dengan dibelinya lahan oleh Pemda DKI, selain mendapatkan uang hasil penjualan, mereka terbebas dari kewajiban melakukan reklamasi atau mengurug lagi kolam-kolam raksanya dengan dana besar.

    Sebelum di lokasi ini, pilihan lain berada di Ujung Menteng, Jakarta Timur dan Medansatria, Kota Bekasi. Tapi, kedua lokasi telah padat penduduk. "Rencana Pemda DKI Jakarta membebaskan tanah di Kelurahan Medansatria, Kecamatan Bekasi Barat untuk tempat pembuangan akhir sampah tidak dapat kami setujui, berhubung berdekatan dengan permukiman," ujar Bupati Bekasi Sukomartono dalam suratnya ke BKSP Jabodetabek pada 20 Februari 1985.

    TPA Bantargebang sekarang telah berusia 34 tahun. Setiap hari ada 7000 ton sampah dikirim ke sana. Sumbernya rumah tangga, perkantoran pemerintah maupun swasta, pasar, hotel, restoran, dan lainnya. Tumpukan sampah menjulang tinggi, diperkirakan mencapai 50 meter. Pemerintah DKI Jakarta memproyeksikan umur TPA yang terletak di Kota Bekasi itu hanya sampai 2021.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.