Pasien TBC Disuntikkan Obat Kedaluwarsa, Kepala Dinas Klaim Aman

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nur Istiqomah (50) warga Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Kota Depok, menunjukkan obat kadaluwarsa yang sempat disuntikkan ke tubuhnya, Senin 9 September 2019. TEMPO/ADE RIDWAN

    Nur Istiqomah (50) warga Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Kota Depok, menunjukkan obat kadaluwarsa yang sempat disuntikkan ke tubuhnya, Senin 9 September 2019. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Depok – Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita, menepis bahaya dari obat kedaluwarsa yang telah diberikan dan disuntikkan kepada seorang pasien puskesmas di kota itu. Obat diketahui kedaluwarsa setelah si pasien penyakit TBC tngkat dua itu menjalani hingga puluhan kali penyuntikan.

    “Kemarin sudah kami rujuk ke dokter spesialis paru, tidak ada efek apa-apa,” kata Nova saat ditemui Tempo di kantornya, Selasa 10 September 2019.

    Menurut dia, efek dari obat yang telah kedaluwarsa itu hanya menurunkan kualitas obat. “Tapi kami tetap lakukan observasi kepada pasien selama tujuh hari ke depan,” kata Nova.

    Kalaupun ada efek lain yang dirasa si pasien, Nova memastikan itu merupakan efek obat paru-paru, bukan obat TBC yang dipersoalkan kedaluwarsanya tersebut. Dia mengklaim pasien sudah mengetahui efek itu.

    "Dari awal, kalau ada pusing, gatal, dan sebagainya, itu efek obat paru,” kata Nova menambahkan.

    Nur Istiqomah (50), warga Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, diduga menerima obat kedaluwarsa dari puskesmas tempatnya berobat setiap hari. Isti adalah pasien pengidap TBC dan setiap harinya ia harus mendapat suntikan obat tanpa berhenti.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita, menjelaskan efek obat kedaluwarsa yang diberikan puskesmas di kota itu kepada seorang pasien TBC, Selasa 10 September 2019. TEMPO/ADE RIDWAN

    Kepada Tempo, Isti bercerita telah mendapat obat yang telah habis masa berlakunya sejak Juli 2019. Yang bisa dipastikannya, obat itu telah disuntikkan ke tubuhnya pada Sabtu 7 September 2019. Tapi dia menghitung, sudah 33 kali dirinya menjalani disuntik dari botol obat yang sama. Diketahui pada labelnya tertera nama Streptomycin Sulfate produksi PT. Meiji Indonesia

    “Ketahuan pas dokter di satu klinik tempat saya berobat bilang obatnya tidak bisa tercampur,” kata Isti, Senin 9 September 2019.

    Isti menerangkan kalau ia selalu berobat ke Puskesmas Villa Pertiwi yang lokasinya tak jauh dari komplek perumahannya. Dari puskesmas itu pula dia menerima obat. “Di puskesmas kan buka Senin sampai Jumat, jadi untuk Sabtu dan Minggu saya hanya dikasih obat dan disuntikkan di luar,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.