Kasus Ambulans di Kerusuhan 22 Mei, Ini Dakwaan ke Kader Gerindra

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang dengan terdakwa lima orang pembawa batu dari ambulance Partai Gerindra, 16 September 2019. Ambulance tersebut membawa batu saat terjadi kerusuhan 22 Mei lalu. Tempo/Imam Hamdi

    Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang dengan terdakwa lima orang pembawa batu dari ambulance Partai Gerindra, 16 September 2019. Ambulance tersebut membawa batu saat terjadi kerusuhan 22 Mei lalu. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta -Lima terdakwa pembawa batu di mobil Partai Gerindra saat kerusuhan 22 Mei menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 16 September 2019.

    Kelimanya adalah Yayan Hendrawan alias Ibing yang menjadi sopir ambulance, Iskandar Hamid, Obby Nugraha, Surya Gemala Cibro dan Hendrik Syamrosa.

    Berkas lima terdakwa kasus kerusuhan 22 Mei tersebut dibagi dua. Satu berkas perkara dengan terdakwa Ibing, Iskandar dan Obby. Ketiganya adalah kader Gerindra Tasikmalaya.

    Sedangkan, satu berkas lainnya dengan terdakwa Surya dan Hendrik, yang berasal dari anggota Front Pembela Islam Riau. "Terdakwa dikenakan dakwaan alternatif," kata jaksa Nopriyandi di dalam persidangan.

    Nopriyandi menuturkan tiga terdakwa asal Tasikmalaya terbukti membawa ambulance Gerindra yang membawa batu saat terjadi kerusuhan ke kawasan Badan Pengawas Pemilu. Di dalam mobil tersebut ditemukan berbagai jenis batu seperti konblok, hebel dan batu kali yang mencapai 20 buah.

    Batu tersebut diduga sisa dari batu yang digunakan untuk melempar petugas. Para terdakwa juga diduga ikut melempar batu ke arah petugas dan merusak fasilitas umum di sekitar Bawaslu. "Batu itu diduga digunakan untuk melempar petugas yang mengamankan kerusuhan di Bawaslu," ujarnya.

    Setelah diperiksa, kata dia, ternyata ambulance tersebut digunakan hanya untuk kamuflase membantu korban kerusuhan. Padahal, ambulance tersebut digunakan untuk menyimpan batu. "Saat diperiksa tidak ada alat medis sebagaimana layaknya ambulance. Kelima orang yang di dalam mobil tersebut (yang saat ini menjadi terdakwa) bukan berprofesi sebagai paramedik."

    Sedangkan, dua terdakwa asal Riau tersebut didakwa karena mereka ikut menjaga ambulance berisi batu tersebut. Seluruh terdakwa dijerat tiga pasal alternatif. Pertama pasal 212 junto pasal 214 ayat 1 KUHP. Dakwaan alternatif kedua pasal 170 ayat 1 KUHP junto pasal 53 ayat 1 KUHP dan dakwaan alternatif terakhir pasal 218 KUHP.

    Adapun Pasal 212 KUHP menyatakan "Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan melawan serang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah, atau orang yang waktu itu menurut kewajiban undang-undang atau atas permintaan pejabat yang bersangkutan sedang membantunya, diancam karena melawan pejabat dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."

    Pasal 170 ayat 1 berbunyi "Barangsiapa terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan."

    Sedangkan, Pasal 218 KUHP berbunyi, "Barangsiapa pada waktu rakyat datang berkerumun dengan sengaja tidak pergi dengan segera sesudah diperintahkan tiga kali oleh atau atas nama penguasa yang berwenang, diancam karena ikut serta perkelompokan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.