Serangan Gas Air Mata Bikin Omzet Melonjak, PKL: Berkah Demo

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang kaki lima yang berada di antara massa demonstrasi pelajar di kawasan pintu gerbang belakang DPR RI, Rabu 25 September 2019. Para PKL meraup berkah dari demonstran yang menjadi korban gas air mata. TEMPO/M JULNIS FIRMANSYAH

    Pedagang kaki lima yang berada di antara massa demonstrasi pelajar di kawasan pintu gerbang belakang DPR RI, Rabu 25 September 2019. Para PKL meraup berkah dari demonstran yang menjadi korban gas air mata. TEMPO/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pedagang kaki lima atau PKL meraup berkah dari demonstrasi yang terus terjadi di kawasan Gedung DPR RI tiga hari belakangan. Setiap demonstrasi yang diwarnai kericuhan dan tembakan gas air mata oleh aparat tersebut tepatnya memberi keuntungan bagi para penjual air mineral.

    itu terjadi termasuk saat demonstrasi oleh pelajar hari ini, Rabu 25 September 2019. Massa terdiri dari pelajar sekolah menengah atas, pertama, maupun kejuruan berkumpul di kawasan pintu gerbang belakang Gedung DPR RI.

    Dalam aksinya itu mereka berbuat anarkistis dengan menyerang aparat keamanan, yang dibalas dengan tembakan gas air mata. Di antara saling serang itu terselip pemandangan sejumlah PKL yang bergeming di antara kericuhan di sekitarnya.

    Juanda, misalnya. Berkali-kali gas air mata ditembakkan polisi dan membuat massa pelajar itu kocar-kacir, dia diam menunggui gerobaknya. "Alhamdulilah, tiga hari demo ini omzet naik 100 persen," ujarnya.

    Juanda membandingkan dengan omzet di hari biasa dia mangkal di kawasan Lapangan Tembak, Senayan. Dia mengaku setiap harinya mendapat Rp 200 - 300 ribu. 

    Dari pantauan Tempo, air mineral dalam kemasan yang dijual Juanda laris diserbu massa yang matanya perih terkena gas air mata. Modal Rp 1.500 per botol, Juanda jual dengan harga Rp 5.000. "Berkah demo," kata dia

    Ratusan pelajar hanya sesaat melakukan orasi. Selanjutnya adalah tindakan anarkis berupa pelemparan batu dan pembakaran ban.

    Polisi yang berpakaian antihuru-hara terlihat hanya bisa bertahan dari dalam pagar. Mereka juga berkali-kali menembakan gas air mata ke arah massa. Perihnya gas air mata tersebut membuat massa kalang kabut mencari air sehingga membuat dagangan Juanda laris.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.