Kasus Kekerasan Wartawan, AJI Sebut Belum Pernah Ada yang Tuntas

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memukul kentongan saat menggelar aksi jalan mundur dalam car free day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. Menurut Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia Sasmito Madrim, kentongan menjadi simbol tanda bahaya dan tanda kritis terhadap demokrasi di Indonesia. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memukul kentongan saat menggelar aksi jalan mundur dalam car free day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. Menurut Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia Sasmito Madrim, kentongan menjadi simbol tanda bahaya dan tanda kritis terhadap demokrasi di Indonesia. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Sasmito Madrin, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan wartawan yang dilakukan oleh aparat pada saat demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR 23-24 September lalu. Menurut Sasmito, selama ini belum pernah ada kasus kekerasan kepada wartawan oleh aparat yang diusut tuntas.

    "Jadi tanpa ada penyelesaian kasus yang melibatkan polisi, akan berulang terus (kekerasan terhadap wartawan) karena tidak ada efek jera," ujar Sasmito di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Ahad, 29 September 2019.

    Karena ada preseden ini, Sasmito mengatakan AJI selalu memosisikan polisi sebagai musuh kebebasan pers. Berbeda dengan aparat TNI yang ketika melakukan kekerasan terhadap pers, pelakunya dijatuhi hukuman penjara.

    "2012 lalu ada anggota TNI yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis di Medan, itu divonis 6 bulan. Meskipun sedikit kami mengapresiasi ada sanksi ke TNI," kata Sasmito.

    Dalam aksi 23-24 September 2019 di Gedung DPR RI, AJI mencatat ada 10 wartawan menjadi korban kekerasan aparat. Tempo pernah memuat tiga di antaranya, antara lain Farih Maulana Sidik dari Detikcom, Insan Al Fajri dan Evan Ato dari Harian Kompas.

    Farih menuturkan polisi berpakaian huru hara tiba-tiba mendatangi dan meminta telepon genggamnya. Farih dan jurnalis lain dituduh telah merekam tindakan bengis polisi yang menggebuki massa.

    "Isi handphone saya diperiksa semua dari isi WhatsApp sampai galeri. Polisi juga menghapus dua video dan beberapa foto," kata Farih.

    Insan Al Fajri juga mendapatkan perlakuan serupa. Bahkan, seluruh isi foto dan video yang ada di telepon genggamnya dihapus polisi. "Tidak ada rekaman saat polisi memukuli massa di handphone saya. Saya menyesalkan tindakan polisi seperti itu," kata dia.

    Wartawan Harian Kompas itu mengatakan melihat dari jarak dekat polisi menangkapi sejumlah massa demonstrasi dan menganiaya mereka hingga babak belur. Massa yang ditangkap masih mendapat kekerasan polisi seperti dipukul, diinjak dan dipentung. "Saya melihatnya dari jarak dekat polisi memukuli demonstran," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.