Mengaku Trauma, Petugas Ambulans Korban Kekerasan Polisi Bungkam

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar tangkapan layar video yang diunggah akun TMC Polda Metro Jaya di Instagram yang menyebut ambulans DKI membawa batu dan bensin untuk pendemo.

    Gambar tangkapan layar video yang diunggah akun TMC Polda Metro Jaya di Instagram yang menyebut ambulans DKI membawa batu dan bensin untuk pendemo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter dan petugas medis di mobil ambulans DKI Jakarta yang menjadi korban kekerasan polisi pada Rabu malam 25 September 2019 mengaku trauma dan menolak bicara. Pada malam itu mereka disergap aparat saat berada di kawasan Pejompongan dan sempat dituduh membawa batu untuk massa perusuh buntut demonstrasi di DPR RI.

    Ketua Umum Jakmove Taufik Hoesien mengungkap kondisi dokter dan petugas medis itu saat dihubungi, Kamis 3 Oktober 2019. "Untuk saat ini korban petugas ambulans belum mau mengambil langkah apapun, masih trauma," katanya.

    Taufik berencana mengadukan kekerasan yang terjadi pada malam itu ke Polda Metro Jaya pada Senin lalu. Sembari melaporkan berita bohong alias hoax bahwa ambulans membawa batu untuk perusuh. Tapi pelaporan itu urung dilakukan hingga berita ini dibuat karena Jakmove tidak berhasil mengajak serta satu pun saksi korban.

    "Petugas ambulans dinas gak berani juga mendahului pimpinan (dinas)," kata Taufik. 

    Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Widyastuti mengatakan tiga petugas medis ambulans DKI digebuki anggota polisi pada malam itu, ketika menolong para demonstran yang terluka. Ia menuturkan ketiga anak buahnya itu mengalami luka dan beberapa harus dijahit. 

    Kondisi kaca mobil ambulans yang diduga membawa baru serta bensin saat peristiwa kerusuhan antara pelajar dengan kepolisian di Gardu Tol Pejompongan, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, 26 September 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Widiastuti menerangkan ketiga petugas medis tersebut berasal dari Puskesmas Pademangan di Jakarta Utara. Mereka sempat ditahan polisi selama satu hari karena tuduhan bawa batu dan besin itu sebelum polisi mengaku salah sangka.

     

    Setelah ditahan selama sehari, mereka dibebaskan dan dirujuk ke Rumah Sakit Tarakan. "Sudah pulang tapi mereka belum bisa cerita dengan maksimal. Saya masih menghargai mereka butuh istirahat," ujarnya. 

    Tempo mencoba mendatangi Puskesmas Pademangan, Kamis 3 Oktober 2019. Reaksi yang didapat sama: menolak buka suara atas peristiwa kekerasan yang mereka alami dari aparat.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.