Cium Tangan Terakhir Maulana Suryadi Sebelum Demonstrasi Pelajar

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi jenazah Maulana Suryadi, 23 tahun, yang terus mengeluarkan darah di bagian hidung dan telinganya, saat dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan, pada Jumat, 27 September 2019. Dok: Keluarga

    Kondisi jenazah Maulana Suryadi, 23 tahun, yang terus mengeluarkan darah di bagian hidung dan telinganya, saat dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan, pada Jumat, 27 September 2019. Dok: Keluarga

    TEMPO.CO, Jakarta -Maulana Suryadi alias Yadi, 23 tahun sempat meminta maaf kepada ibunya, Maspupah, 53, sebelum meninggal dunia usai ikut demonstrasi pelajar yang berakhir rusuh di sekitar Gedung DPR/MPR RI Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu, 25 September 2019.

    "Terus cium tangan. Maafin Yadi ya bu, cium tangan lagi," kata Maspupah di Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019.

    Dengan nada pilu, Maspupah menuturkan Yadi juga sempat memijat badan dirinya seraya terus meminta maaf dan mencium tangan.

    Selain itu, dia mengisahkan temannya Yadi bernama Aldo yang bercerita ditangkap petugas kepolisian saat berunjuk rasa di sekitar Slipi, Jakarta Barat. "Temannya baru keluar tuh si Aldo, di dalam penjara katanya. Ditangkapnya berdua sama Yadi. Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya," ujar dia.

    Berdasarkan penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan saat itu Aldo dan Yadi berdemonstrasi di Flyover Slipi ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil.

    Di dalam mobil terdapat beberapa orang, kemudian Aldo dan Yadi tidak sadarkan diri, setelah siuman Aldo sudah berada di dalam penjara sedangkan keberadaan Yadi tidak diketahui.

    Selanjutnya, polisi menghubungi Maspupah menanyakan keberadaannya saat itu Maspupah sudah berada di rumah usai pulang kerja.

    Pada Kamis 26 September 2019 sekitar pukul 20.00 WIB, Maspupah kedatangan delapan orang yang menumpang dua mobil dan diperlihatkan jasad Yadi. "Polisi ngajak makan dulu. Nggak ah makasih udah kenyang. Polisi bilang Maulana udah gak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat," tutur Maspupah.

    Maspupah juga sempat ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk mengurus jasad Yadi dengan disodorkan surat pernyataan mengenai penyebab kematian Yadi.

    Menurut wanita yang sehari-hari penjaga lahan parkir itu, surat pernyataan tersebut berisi Yadi meninggal dunia akibat terkena gas air mata dan penyakit asma.

    "Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya gak banyak omong, takut," Maspupah menceritakan.

    Maspupah juga melihat jasad Yadi yang mengeluarkan darah dari telinga bahkan sempat menanyakan hal itu, namun jawaban dari petugas disebabkan karena penyakit asma.

    Saat dimakamkan pun menurut Maspupah, tidak ada petugas kepolisian yang hadir dan jasad mengeluarkan darah. Teman Yadi bernama Aldo sempat mendekam di penjara selama tiga hari dan membantah ikut demonstrasi. "Dia cerita bukan sedang demo, cuma lihat," tutur Maspupah.

    Ibu korban menyatakan tidak terima jika Yadi dipukuli hingga meninggal dunia karena dituduh ikut demonstrasi pelajar yang berujung ricuh. "Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena dari Allah SWT, saya ikhlas," demikian Maspupah.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.