Kereta Terhenti Mendadak, Ini Penjelasan MRT Jakarta

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengoperasian MRT fase I koridor Lebak Bulus - Bundaran HI melintas di kawasan Fatmawati, Jakarta, Selasa, 12 Maret 2019. Rencananya, MRT Jakarta akan beroperasi untuk komersil pada 24 Maret 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengoperasian MRT fase I koridor Lebak Bulus - Bundaran HI melintas di kawasan Fatmawati, Jakarta, Selasa, 12 Maret 2019. Rencananya, MRT Jakarta akan beroperasi untuk komersil pada 24 Maret 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT MRT Jakarta belum mengetahui sebab gangguan yang terjadi pada rangkaian kereta Ratangga 0721. Rangkaian itu mengalami gangguan modul penggerak dan tiba-tiba berhenti sehingga terjadi keterlambatan selama 16 menit 12 detik di Stasiun MRT Fatmawati, Selasa petang 8 Oktober 2019.

    "Ratangga 0721 sekarang ditempatkan di Depo Lebak Bulus untuk pemeriksaan dan perbaikan. Informasi lengkap akan disampaikan kemudian," kata Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin, saat dihubungi, Selasa malam, 8 Oktober 2019.

    Kamaluddin menyampaikan kereta hendak berangkat menuju Stasiun MRT Lebak Bulus saat terhenti di Stasiun Fatmawati pukul 18.57 WIB. Dia membantah telah terjadi gangguan sinyal. Yang ada adalah gangguan pada satu komponen dalam sistem kontrol traksi kereta.

    Kejadian ini disebut gangguan modul penggerak di dalam kereta namun kini kereta MRT sudah beroperasi normal. "Tidak ada gangguan pada rangkaian kereta lainnya, namun tadi terhenti juga di stasiun menunggu Ratangga 0721 bergerak ke Depo," kata Kamaluddin.

    Sebelumnya, akun Twitter MRT Jakarta menginformasikan telah terjadi keterlambatan kereta selama 16 menit 12 detik karena alasan operasional. Informasi itu diunggah hari ini pukul 19.50 WIB. Dalam unggahan itu, PT MRT Jakarta meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang.


  • MRT
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.