Kasus Ninoy Karundeng, Begini Cerita Pengurus Masjid dan Warga

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masjid Al Falaah, Pejompongan, Jakarta Pusat, yang diduga menjadi tempat penyekapan dan penganiayaan Ninoy Karundeng, Selasa, 8 Oktober 2019. Tempo/Adam Prireza

    Masjid Al Falaah, Pejompongan, Jakarta Pusat, yang diduga menjadi tempat penyekapan dan penganiayaan Ninoy Karundeng, Selasa, 8 Oktober 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Kemakmuran Masjid Al Falaah Pejompongan, Iskandar, meminta polisi mengungkap kasus dugaan pemukulan yang dialami oleh relawan Jokowi, Ninoy Karundeng pada kericuhan saat demonstrasi 30 September lalu.

    Iskandar membenarkan kalau melihat Ninoy dipukuli sejumlah orang. Namun, pemukulan berlangsung di luar area masjid.

    Ia mengatakan tak ada tindak kekerasan yang terjadi di dalam rumah ibadah itu. “Saya berharap polisi mengusut tuntas soal ini. Tidak mungkin ada kekerasan di dalam masjid,” kata Iskandar kepada Tempo, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Iskandar menceritakan Masjid Al Falaah pada malam itu memang menjadi posko kesehatan. Di dalamnya, ada dokter dan tim paramedis yang siaga untuk mengobati korban demonstrasi yang berujung ricuh itu.

    Sekitar pukul 20.00 WIB, Iskandar melihat ada seseorang dipukuli massa sekitar 3 meter dari pintu gerbang Masjid Al Falaah. Menurut dia, warga yang melihat kejadian itu lantas membawa Ninoy ke dalam masjid.

    Tujuannya, kata Iskandar, untuk menyelamatkan pria itu dari pukulan massa. “Kami tidak tau dia siapa. Pokoknya warga selamatkan dulu. Dibawa ke dalam masjid untuk diberi pengobatan karena wajahnya bengep-bengep,” ujarnya.

    Iskandar meninggalkan masjid untuk pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 WIB. Hingga saat itu, kata dia, dirinya tak melihat adanya tindak kekerasan di dalam masjid.

    Ia pun mengatakan tak tahu menahu soal interogasi dan intimidasi yang dialami Ninoy Karundeng malam itu, termasuk sosok habib yang disebut-sebut mengancam akan membunuh Ninoy.

    Relawan Jokowi, Ninoy Karundeng, ditemui awak media di kantor Subdirektorat Resmob Polda Metro Jaya, Senin, 7 Oktober 2019. Tempo/M Yusuf Manurung

    Menurut Iskandar, pada Rabu malam, 2 Oktober 2019, polisi telah meminta server yang menyimpan rekaman dua kamera pengintai alias CCTV yang terpasang di Masjid Al Falaah. Kamera CCTV terpasang di pojok kanan dan kiri masjid serta mengarah ke halaman depan.

    Seorang jemaah Masjid Al Falaah menunjukkan video yang menggambarkan kondisi di lokasi pada 30 September sekitar pukul 19.50 WIB kepada Tempo. Dalam video itu terlihat masjid sudah dipenuhi oleh korban kericuhan. Bahkan, jalanan di depan masjid juga dijadikan tempat mengobati para korban.

    Kondisi yang tergambar dalam video itu cukup kacau. Korban yang mayoritas mengalami gangguan pernafasan akibat terkena gas air mata silih berganti digotong ke area masjid. “Kami enggak mungkin menanyakan kamu siapa. Pokoknya yang terlihat butuh pertolongan, langsung kami tolong,” ujar jemaah yang juga tinggal di dekat Masjid Al Falaah itu.

    Ia mengatakan sempat melihat ada seseorang yang diselamatkan dari kerumunan massa untuk dibawa ke dalam masjid lantaran dipukuli. Ia bahkan mengatakan sempat meminta kepada tim paramedis untuk mengobati orang tersebut. Setelah kasus ini mencuat, dirinya baru tau kalau itu adalah Ninoy Karundeng. Senada dengan Iskandar, ia mengatakan kalau tak ada tindak kekerasan yang terjadi di dalam masjid.

    Ninoy Karundeng diduga disekap dan dianiaya hingga hampir dibunuh oleh sejumlah orang di Masjid Al Falaah, Pejompongan Barat, Jakarta Pusat pada 30 September hingga 1 Oktober lalu. Saat itu, massa juga merekam video yang menampilkan Ninoy tengah diinterogasi dengan wajah lebam. Video berdurasi 2 menit 42 detik tersebut kemudian viral di media sosial dan tersebar di grup-grup percakapan WhatsApp.

    Dalam kasus penganiayaan Ninoy Karundeng ini, polisi telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Mereka adalah AA, ARS, YY, RF, Baros, S, TR, SU, ABK, IA, R, F alias Fery dan Bernard Abdul Jabbar, Sekjen PA 212.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.