Indiskop, Nonton Film di Tengah Pasar Hanya Rp 18 Ribu

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak mengantre untuk membeli tiket di Indiskop atau Bioskop Rakyat di Pasar Jaya Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta, Rabu, 3 Juli 2019. Bioskop Rakyat ini dibangun atas kerja sama antara Perumda Pasar Jaya dan Persatuan Artis Film Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Anak-anak mengantre untuk membeli tiket di Indiskop atau Bioskop Rakyat di Pasar Jaya Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta, Rabu, 3 Juli 2019. Bioskop Rakyat ini dibangun atas kerja sama antara Perumda Pasar Jaya dan Persatuan Artis Film Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada Senin, 7 Oktober lalu, Gubernur DKI Jakarta meresmikan beroperasinya Indiskop, bioskop yang berada di Pasar Teluk Gong, Jakarta Utara. Tak seperti bioskop pada umumnya, bioskop itu menawarkan harga murah untuk setiap film yang diputarnya.

    Harga tiketnya dibanderol Rp 18 ribu di hari kerja dan Rp 25 ribu di akhir pekan. Namun, hingga Desember 2019, pengunjung bisa menikmati harga promosi Rp 15 ribu.

    Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Arief Nasrudin berharap Indiskop mampu meningkatkan minat mastarakat berkunjung ke apsar. "Sehingga juga berimbas pada pemasukan pedagang," ujar Arief.

    Bioskop berharga murah itu mengusung konsep Edusinema, Ruang Kreatif, Kuliner Indonesia. Pembangunannya hasil kolaborasi Perumda Pasar Jaya dengan PT Kreasi Anak Bangsa (Keana Films-Production), Badan Ekonomi Kreatif Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) dan didukung oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) serta Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) 56.

    Saat ini, Indiskop punya dua studio dengan empat jam tayang setiap harinya. Di sana juga tersedia area foodcourt dengan 12 tenan yang disiapkan untuk UMKM, namun baru terisi dua yang berjualan.

    Anak-anak menonton di salah satu teater di Indiskop atau Bioskop Rakyat di Pasar Jaya Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta, Rabu, 3 Juli 2019. Masing-masing teater dapat menampung 128 orang dan dilengkapi dengan 6 speaker, 3 pendingin ruangan (AC) dan 1 proyektor. ANTARA

    Tempo sempat mencoba menonton salah satu film di sana. Tak jauh berbeda dengan bioskop komersil pada umumnya, studio dalam Indiskop juga dilengkapi pendingin, bangku yang nyaman dengan kapasitas 112 orang per bioskop dan layar lebar. Selain itu, bioskop ini dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti musala dan creative space.

    Saat Tempo mencoba menonton pada 7 Oktober lalu, hanya ada satu penonton di studio 1 dan 10 penonton di studio 2. Meski begitu, film tetap diputar sesuai dengan jam tayang yang sudah ditentukan.

    "Di sini ramai kalau akhir pekan atau sore jam anak-anak pulang sekolah," kata Manajer Operasional Indiskop Almi Rusdi.

    Benar saja, sekitar pukul 16.30 WIB, segerombolan anak-anak datang bersama beberapa orang dewasa. Mereka mengaku tertarik ingin menonton. "Pengin coba nonton bioskop, penasaran, katanya murah," ujar Amri, 42 tahun yang datang bersama beberapa anak-anak tetangganya.

    Bioskop murah ini sebenarnya sudah mulai beroperasi pada Juni lalu dengan memutar film-film lawas. Ke depannya, Indiskop membuka kemungkinan menayangkan film-film anyar. Tapi hanya khusus film-film Indonesia.

    Saat peluncuran, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap Indiskop dapat menghadirkan kesetaraan bagi seluruh lapisan masyarakat Jakarta. Serta bisa menjadi salah satu ruang ketiga untuk berinteraksi dan mendapatkan hiburan yang membangun rasa kebersamaan.

    Rencananya, bioskop serupa juga akan dibuat di sejumlah pasar di Jakarta. Dalam waktu dekat, menurut Anies, Pasar Kenari, Senen, Jakarta pusat menjadi lokasi potensial untuk bioskop rakyat selanjutnya. "Nanti lanjut ke wilayah selatan dan timur, bertahap," kata Anies.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.