Satpol PP Bubarkan Pencari Suaka yang Nginap di Trotoar

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Satpol PP DKI membubarkan pencari suaka yang memaksa bertahan di depan gedung kantor perwakilan UNHCR di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis malam 10 Oktober 2019. Ratusan imigran itu berunjuk rasa menuntut shelter dan difasilitasi menuju negra ketiga. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    Petugas Satpol PP DKI membubarkan pencari suaka yang memaksa bertahan di depan gedung kantor perwakilan UNHCR di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis malam 10 Oktober 2019. Ratusan imigran itu berunjuk rasa menuntut shelter dan difasilitasi menuju negra ketiga. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintahan DKI Jakarta menggagalkan rencana pencari suaka untuk menginap di trotoar Jalan Kebon Sirih pada Kamis malam. Puluhan petugas Satpol PP dikerahkan untuk membubarkan dan rmengangkut para pengungsi dari sejumlah negara itu kembali ke gedung eks Kodim Kalideres usai berunjuk rasa di kantor UNHCR Jakarta Pusat.

    "Kita bawa kembali ke gedung eks kodim Kalideres," ujar Kepala Kesbangpol DKI, Taufan Bakri, Kamis malam, 10 Oktober 2019.

    Taufan mengatakan para pengungsi dibawa paksa kembali ke Kalideres lantaran masih menempati trotoar hingga malam hari. DKI menyediakan 5 unit bus Transjakarta untuk memulangkan pengungsi ke Kalideres.

    Taufan memaklumi tuntutan para pengungsi kepada UNHCR. Namun penyampaian aspirasi hingga malam hari itu melanggar aturan dan mengganggu ketertiban umum.

    Taufan mengatakan saat ini permasalahan pencari suaka dipegang oleh pemerintahan pusat. DKI hanya mengikuti permintaan pemerintah pusat untuk menyediakan tempat di Kalideres.

    Kamis siang, ratusan pencari suaka kembali berunjuk rasa ke UNHCR karena merasa ditelantarkan. Hak-hak mereka berupa shelter untuk tempat tinggal, makanan, hingga jaminan kesehatan tidak dipenuhi badan PBB untuk pengungsi itu.

    Wahid Ali, salah seorang pencari suaka mengeluh karena UNHCR tak kunjung memproses keberangkatan mereka menuju ke negara ketiga. "Banyak yang tidak diproses proses untuk menuju ke negara ke tiga," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.