Wawancara Faisal Amir: Terluka Parah Tapi Tak Kapok Ikut Aksi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa Al Azhar Indonesia, Faisal Amir, saat ditemui di kediamannya di Perumahan villa Ilhami Islamik Village, Tangerang, Banten, 13 Oktober 2019. Faisal adalah mahasiswa yang menjadi korban saat unjuk rasa yang berakhir rusuh di sekitar gedung DPR RI. Tempo/Imam Hamdi

    Mahasiswa Al Azhar Indonesia, Faisal Amir, saat ditemui di kediamannya di Perumahan villa Ilhami Islamik Village, Tangerang, Banten, 13 Oktober 2019. Faisal adalah mahasiswa yang menjadi korban saat unjuk rasa yang berakhir rusuh di sekitar gedung DPR RI. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Faisal Amir mengatakan mau mengikuti unjuk rasa di gedung DPR RI, yang akan dilaksanakan pada 14-17 Oktober 2019. Faisal mengatakan telah diundang untuk mengikuti unjuk rasa yang tuntutannya mendesak agar Presiden Joko Widodo membatalkan undang-undang bermasalah sebelum pelantikan presiden pada 20 Oktober mendatang.

    "Saya masih mau ikut, saya tidak kapok. Saya meninggal, meninggal sekalian," kata Faisal saat ditemui di rumahnya di Perumahan Villa Ilhami Islamic Village, Tangerang, Banten, Ahad, 13 Oktober 2019. "Saya tidak rugi meninggal, saya hidup tidak rugi."

    Faisal adalah mahasiswa yang menjadi korban kericuhan yang terjadi antara demonstran dengan aparat keamanan pada 24 September. Mahasiswa Fakultas Hukum itu ditemukan terluka parah usai demo berlangsung. Dari hasil pemeriksaan dokter dan CT Scan, Faisal mengalami luka-luka di kulit kepala, tengkorak retak, pendarahan di otak, dan tulang bahu patah.

    Mahasiswa 21 tahun itu mengatakan masih mau mengawal teman-temannya untuk ikut berunjuk rasa di gedung DPR. Faisal berharap mahasiswa bisa terus berjuang sampai tuntutannya dipenuhi. Jangan sampai, kata dia, Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi yang baru berlaku pada 17 Oktober mendatang.

    Menurut Faisal, UU KPK harus dibatalkan karena melemahkan institusi tersebut. "KPK jangan dilemahkan," ujarnya.

    Selain itu, Faisal tidak setuju dengan adanya beberapa pasal bermasalah dalam revisi KUHP. Sejumlah pasal bermasalah tersebut, kata dia, berpotensi mengkriminalisasi orang. "Masalah hubungan suami istri bisa dipidanakan, gelandangan jadi pergelandangan dan hewan juga diatur," ujarnya.

    Faisal mengatakan pasal bermasalah tersebut tak perlu dimasukkan. "Aturan tersebut sudah ada di KUHP sebelumnya. Tidak perlu ditambah yang dipersulit. Kami juga mengkaji lengkap KUHP," ujarnya.

    Ibunda Faisal, Ratu Agung, membenarkan anaknya kembali diajak untuk mengikuti unjuk rasa di DPR sebelum 17 Oktober mendatang. Namun, Ratu belum mengizinkan anaknya untuk ikut langsung dalam unjuk rasa hari ini karena faktor kesehatan Faisal. "Bukannya saya melarang. Kondisi Faisal masih dalam pemulihan," ujarnya.

    Menurut Ratu, undangan agar Faisal Amir kembali turun ke jalan telah disampaikan temannya sejak Sabtu, 12 Oktober lalu, saat menjenguk anaknya. Ia mengaku masih berdebat dengan Faisal yang berkukuh untuk datang pada aksi unjuk rasa mahasiswa. "Saya mendukung adanya unjuk rasa agar ada perubahan. Namun, untuk ujuk rasa besok Faisal bisa menjadi simbol perjuangan mahasiswa untuk melanjutkan aksinya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.