2 Tahun Anies Baswedan, Eks Staf Ahok Nilai Banyak PR

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berbincang dengan warga ketika bersepeda di Jakarta, Jumat, 20 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari uji coba jalur sepeda sebanyak 17 jalur dibagi dalam tiga fase yang seluruhnya mencapai 63 kilometer. ANTARA

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berbincang dengan warga ketika bersepeda di Jakarta, Jumat, 20 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari uji coba jalur sepeda sebanyak 17 jalur dibagi dalam tiga fase yang seluruhnya mencapai 63 kilometer. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Ima Mahdiah, mengatakan Anies Baswedan masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah meskipun telah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua tahun. Dia menilai tak banyak program Anies yang bisa memecahkan masalah ibu kota seperti kemacetan, banjir dan perumahan.

    Menurut Ima, salah satu pekerjaan rumah Anies dalam menangani kemacetan adalah meresmikan kereta ringan (LRT) Jakarta. Menurut dia, LRT dan Moda Raya Terpadu (MRT) yang digagas sejak era Basuki Tjahja Purnama alias Ahok sebagai gubernur itu merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan.

    "LRT belum diresmikan sama beliau. Sebenarnya sudah dari bulan Juni lalu (rencana diresmikan)," kata Ima saat ditemui di DPRD DKI, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Ima pun mendorong agar Anies meneruskan program tersebut dengan menambah cakupan wilayahnya. "Kalau jalurnya ditambah semakin baik."

    Selain itu, Ima juga menyorot soal program rumah DP nol rupiah oleh Anies. Menurut Ima, program tersebut salah sasaran karena warga yang berpenghasilan rendah justru tidak mendapatkannya.

    Menurut Ima, rumah tersebut tidak menyasar kepada warga berpenghasilan rendah karena mematok mereka yang bergaji Rp 4-7 juta untuk mendapatkannya.

    "Sedangkan, warga berpenghasilan rendah banyak yang gajinya di bawah Rp 4 juta."

    Menurut Ima, lebih baik Anies meniru Ahok yang menyediakan rumah susun sederhana sewa dengan harga yang rendah. Saat itu, Ahok memberi kemudahan warga berpenghasilan rendah dengan menyewa rusun Rp 10 ribu per hari atau Rp 300 ribu per bulan. "Itu (pembangunan DP nol rupiah) yang menurut saya perlu dievaluasi," ujarnya.

    Eks staf Ahok itu menambahkan, Anies mesti membangun perumahan yang diperuntukan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah bukan yang dipatok harus berpenghasilan Rp 4-7 juga. "Masyarakat yang butuh rusun itu bukan kelas menengah, tapi kelas menengah bawah."

    Selain itu, langkah Anies untuk mencegah banjir dengan konsep naturalisasi sungai juga belum berjalan sampai sekarang. "Selama dua tahun ini saya belum melihat naturalisasi yang dijanjikan," ujarnya.

    Anies Baswedan akan genap dua tahun memimpin DKI Jakarta pada 16 Oktober 2019. Populi Center dalam survei terbarunya menyebutkan tingkat kepuasan publik terhadap eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu masih cukup tinggi dengan mencapai angka 65,5 persen.

    Meskipun demikian, terdapat tren penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai angka 69,8 persen. Salah satu aspek yang membuat masyarakat puas adalah karena program KJP Plus yang digagas Anies Baswedan dinilai lebih baik ketimbang KJP di era Ahok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.