Dua Tahun Anies, Jumlah Penumpang Jak Lingko Lebak Bulus Naik

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angkutan kota dan armada Jak Lingko parkir di badan Jalan R.A. Kartini atau Jalan Ciputat Raya dekat Stasiun MRT dan Halte Transjakarta Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 20 Maret 2019. Tempo/Imam Hamdi

    Angkutan kota dan armada Jak Lingko parkir di badan Jalan R.A. Kartini atau Jalan Ciputat Raya dekat Stasiun MRT dan Halte Transjakarta Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 20 Maret 2019. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar tiga orang turun dari mobil angkutan kota (angkot) biru jurusan Lebak Bulus-Ragunan pada Selasa sore, 15 Oktober 2019. Usai bertanya kepada petugas, seorang ibu langsung melanjutkan perjalannya naik angkot merah Jak Lingko berlogo OK 32 yang melayani rute Lebak Bulus-Petukangan.

    Jak Lingko merupakan program integrasi antar moda transportasi yang dicetuskan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dalam dua tahun kepemimpinan Anies di ibu kota, telah ada 3.359 armada yang terintegrasi layanan ini, baik bus besar, sedang maupun kecil (angkot).

    Salah satu supir OK 32, Fathoni mengatakan layanan angkutan umum itu bisa mengangkut lebih dari 100 penumpang untuk setengah hari operasional di waktu kerja. Jumlahnya berkurang menjadi 80-90 orang di hari libur.

    Sebab, menurut Fathoni, penumpang terbanyak datang dari anak sekolahan. "Kami jalan biasa anak sekolah kalau yang ramai," kata dia saat ditemui Tempo di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

    Supir OK 32 lain, Bambang menyebut rata-rata ada sebanyak 170-180 penumpang orang per hari menggunakan angkot Jak Lingko yang dibawanya. Menurut dia, jumlahnya bisa naik atau turun khususnya di hari libur.

    Bambang merasakan adanya peningkatan penumpang dalam enam bulan terakhir ini. Mulanya hanya sekitar 100-150 orang, namun belakangan naik menjadi 170-180 orang per hari. Menurut dia, saat ini semakin banyak warga yang memiliki kartu elektronik untuk ditapping di mesin Jak Lingko di dalam angkot.

    Kini, kata Bambang, mesin tap tak hanya menerima kartu berlogo Jak Lingko yang dikeluarkan BNI dan Bank DKI. Tapi juga uang elektronik yang dikeluarkan Bank Mandiri. "Penumpang juga sekarang udah banyak pakai kartu. Sudah banyak kesadaran lah," ujar pria 40 tahun itu.

    Warga menaiki angkot Jak Lingko yang dilengkapi AC di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019. Saat ini armada Jak Lingko ber-AC baru tersedia sekitar 5 mobil yang mengangkut penumpang dari Tanah Abang ke Kota. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Menurut Bambang, program Jak Lingko selama ini berjalan dengan baik. Namun dia berharap mesin tap di dalam angkot Jak Lingko bisa menerima uang elektronik yang dikeluarkan semua bank. Dengan begitu, penumpang tak 'kabur' ke angkot kovensional. "Kalau bisa semua kartu bisa soalnya ini masih gratis kan, yang penting punya kartu," ujarnya.

    Dari pantauan Tempo, angkot Jak Lingko berjejer mengantre persis di halte Transjakarta Lebak Bulus. Beberapa supir sedang menunggu petugas merekam total jarak yang sudah ditempuh hingga sore itu.

    Sembari menunggu, sejumlah penumpang mulai berdatangan. Satu angkot tampak membawa sekitar lima atau enam penumpang menuju Petukangan. Sementara angkot lain terlihat sepi penumpang.

    Namun, warga mayoritas mencari angkot Jak Lingko. Pantauan Tempo, warga dari arah Stasiun MRT Lebak Bulus menghampiri angkot Jak Lingko. Ada juga yang turun dari Jak 45 (Lebak Bulus-Ragunan) lalu melanjutkan perjalanannya dengan OK 32.

    Kondisi ini berbeda dengan angkot konvensional di kawasan yang sama. Sekitar tiga angkot biru terlihat berhenti di bahu jalan, persis di pintu masuk Stasiun MRT Lebak Bulus. Sekitar pukul 15.42 WIB, angkot tampak kosong, tak ada satu pun penumpang yang duduk kecuali supir di kursi depan.

    Di waktu yang sama, supir OK 32 bernama Wawan Ahdahiyad, 54 tahun, sudah mendapat 43 penumpang. Dia bekerja mulai pukul 13.00 WIB. Wawan menganggap, program Jak Lingko membuat supir dan penumpang tak terbebani dengan masalah uang kembalian. Hal itu karena jasa angkot Jak Lingko harus dibayar menggunakan uang elektronik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.