Dinkes DKI Tak Sarankan Konsumsi Kerang Hijau dari Teluk Jakarta

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kerang Hijau di Pasar Muara Angke, Jakarta Utara, yang diklaim pedagang berasal dari Teluk Banten sehingga lebih layak dikonsumsi. Tempo/Mediyana Aditama Winata

    Kerang Hijau di Pasar Muara Angke, Jakarta Utara, yang diklaim pedagang berasal dari Teluk Banten sehingga lebih layak dikonsumsi. Tempo/Mediyana Aditama Winata

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyarankan masyarakat tak mengkonsumsi kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta. Sebab, kerang yang terpapar logam berat berbahaya untuk kesehatan terutama di kelompok rentan seperti ibu hamil, balita dan lansia.

    "Yang menyebabkan bahaya memang timbalnya. Beberapa penelitian menunjukan mempengaruhi pada kualitas dari pada yang mengkonsumsi," kata Kepala Dinas Kesehatan Sri Widyastuti di Balai Kota, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Berdasarkan hasil penelitian Profesor Etty Riani, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan di IPB University, pada tahun 2020, kerang hijau di Teluk Jakarta tercemar kandungan logam berat yang angkanya meningkat dari tahun ke tahun.

    Penelitian tersebut kembali dilanjutkan pada 2004 melalui pendanaan dari Bappeda DKI Jakarta. Dari hasil penelitian di Teluk Jakarta tersebut ditemukan kerang hijau mengandung cukup anyak logam berat di dalamnya seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr) dan timah (Sn).

    "Kadar konsentrasi logam berat di dalam kerang itu cukup tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi lagi," kata dia Ahad 13 Oktober 2019.

    Widyastuti mengatakan Dinkes DKI Jakarta secara khusus memang belum melakukan kajian terhadap kandungan logam berbahaya di dalam kerang hijau. Meski begitu, Dinas selalu memberi edukasi kepada warga agar memilih makanan dengan gizi seimbang dan aman.

    Menurut dia, tidak semua seafood mengandung kandungan berbahaya. Sebab, kandungan protein seafood juga dibutuhkan untuk tubuh. "Yang dilarang yang ada kandungan timbalnya. Jadi harus dihindari."

    Selain itu, Dinkes mendorong setiap institusi kesehatan untuk membantu pemerintah dalam melakukan kajian di bidang standar minimal di bidang kesehatan. "Termasuk dengan bagian kesehatan UI kami juga bekerja sama," ujarnya.

    Lebih jauh ia menuturkan kadar timbal dalam kandungan makanan sebenarnya masih bisa ditolerir asal tidak melampaui batas maksimal yang membahayakan. "Jika sudah melampaui batas maka harus dihindari karena bisa menggangu kesehatan."

    Adapun penelitian yang dilakukan profesor IPB menunjukkan kadar tingkat polutan yang cukup tinggi dalam kerang hijau di Teluk Jakarta. Dari sample di tiga lokasi, semuanya melebihi ambang batas 0,01 - 1,00 ppm yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.