Di Bekasi, 2 Remaja Disebut Gangguan Jiwa Karena Kecanduan Ponsel

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak memainkan ponsel setelah melaksanakan salat Idul Fitri di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Seorang anak memainkan ponsel setelah melaksanakan salat Idul Fitri di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Bekasi - Dua remaja disebut mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan bermain telepon genggam dikirim orang tuanya ke panti rehabilitasi mental milik Yayasan Al Fajar Berseri di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Keduanya berinisial T, 17 tahun, dan I, 16 tahun.

    "Dua ini sepertinya syarafnya sudah kena, jadi bicaranya enggak nyambung," kata Pengelola Yayasan Al Fajar Berseri, Marsan Susanto, pada Ahad, 20 Oktober 2019.

    Menurut Marsan, T asal Bekasi sedangkan I asal Medan, Sumatera Utara. Keduanya disebut sudah menjalani rehabilitasi mental di yayasan tersebut selama satu tahun. "Keterangan orang tua, keduanya diduga kecanduan bermain game online," kata Marsan.

    Dugaan berdasarkan kebiasaan keduanya yang sama-sama dilaporkan sering bermain telepon genggam hingga larut malam bahkan sampai dinihari. Tidak ada analisis dokter kejiwaan yang disertakan orang tua.

    "(Sekarang) Kalau ada orang main handphone langsung rampas, diminta," kata Marsan melukiskan gejala gangguan jiwa versi pengamatannya.

    Ia menambahkan, selama setahun terakhir yayasan memberikan terapi laiknya yang diberikan kepada penyandang disabilitas mental di lokasi itu. Paling utama, kata dia, memberikan nasihat dan mengurus dirinya sendiri. "Tidak ada terapi khusus," ujar Marsan.

    Marsan mengklaim tekniknya mampu membuat seorang remaja lainnya asal Lampung memperbaiki tabiatnya. "Hanya empat bulan direhab kondisinya membaik, sekarang sudah pulang," ucap Marsan.

    Ia menyarankan kepada orang tua supaya anak-anak tak lekas diizinkan ataqu difasilitasi ponsel, walaupun hanya sebentar. "Diharuskan mereka bisa belajar, bermain sebagaimana mestinya, jangan sampai waktu dihabiskan untuk bermain game dari ponsel," kata dia.

    Terpisah, Kepala Pusat Layanan Psikologi Pradnyagama Retno IG Kusuma mengatakan remaja rentan mengalami gangguan kejiwaan akibat kecanduan bermain game digital. Bukan hanya dari ponsel atau gawai, dia menyebut kebiasaan lain yakni mendatangi kios Internet.

    "Gangguan jiwa atau gangguan perkembangan dan gangguan emosi semakin tinggi terjadi pada anak-anak dan remaja akibat game online," katanya sambil menambahkan, "(Kecanduan) bisa berdampak pada malas belajar, prestasi menurun. Ketika tidak dituruti permintaanya, mereka mengamuk dan menunjukkan perilaku-perilaku eksesif lainnya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.