Kemarau Panjang, Pemilik Jasa Pengeboran Sumur Panen Rezeki

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membersihkan rumput liar pada lahan pertanian yang kering di Ngerangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Kamis, 10 Oktober 2019. Menurut petani setempat, sudah enam bulan terakhir lahan pertanian di wilayah tersebut mengalami kesulitan air karena kemarau panjang sehingga menyebabkan dua kali gagal panen padi dan kedelai. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    Warga membersihkan rumput liar pada lahan pertanian yang kering di Ngerangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Kamis, 10 Oktober 2019. Menurut petani setempat, sudah enam bulan terakhir lahan pertanian di wilayah tersebut mengalami kesulitan air karena kemarau panjang sehingga menyebabkan dua kali gagal panen padi dan kedelai. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, JakartaKemarau panjang yang membuat banyak daerah di DKI Jakarta mengalami krisis air membawa rezeki bagi pemilik jasa pengeboran sumur. Pendapatannya bisa meningkat berlipat ganda dibanding saat musim penghujan.

    Misalnya seperti yang dialami Toladi Wonogri, 49 tahun. Pemilik jasa pengeboran sumur di wilayah Jakarta Selatan tersebut mengaku pendapatannya lebih besar dibandingkan pada saat musim hujan.

    “Perbandingannya ya agak jauh, kalau sebelum kemarau itu gak banyak melakukan pengeboran sumur, kebanyakan di service pompanya. Itu seminggu bisa 2 - 3 kali. Kalau musim kemarau gini, saya biasanya bisa masuk 2-3 kali dalam sehari,” kata Toladi pada Rabu, 23 Oktober 2019 di Cipete, Jakarta Selatan.

    Jika dikaitkan dengan omzet, ia mengatakan jika keuntungan yang ia dapat tidak terlalu besar karena banyak pesaing-pesaing di sekitar daerahnya yang menekuni bidang yang sama.

    “Jika dibandingkan dengan biasanya, ya kalau biasanya hanya cukup untuk makan, tapi kalau musim kemarau seperti ini saya bisa menyisihkan pendapatan saya sedikit-sedikit. Tapi, di sini banyak yang bekerja sebagai tukang pompa, ada ratusan orang tukang pompa,” katanya.

    Namun ia mengakui jika pendapatannya pada tahun lalu lebih besar dibandingkan tahun ini dikarenakan musim kemarau pada tahun lalu jauh lebih panjang daripada tahun ini.

    “Kayaknya rame tahun lalu, kalau ini kan kurang lebih baru 7 bulan. Yang dulu itu lama sekali dan memang lebih rame dulu,” katanya.

    Bagi penjaja jasa pengeboran sumur seperti Toladi, musim kemarau ini adalah musim di mana para buruh pompa air bisa bekerja dengan produktif jika dibandingkan dengan musim hujan.

    “Karena tukang pompa ini kan kerjanya borongan ya, gak tentu seperti pekerjaan lainnya. Mungkin kalau ibaratnya orang jualan es, harapannya mungkin kan ya panas. Seperti nasib saya."

    "Tukang es kalau lagi musim hujan mungkin hanya satu sampai dua gelas yang laku, tukang pompa juga begitu, kalau lagi musim hujan yang orang butuh kan juga tidak banyak, hanya satu sampai dua orang, atau langganan-langganan saja yang panggil jika ada masalah,” kata Toladi.

    Menurut Toladi, musim kemarau tahun ini akan tetap berlangsung hingga 2 bulan ke depan jika melihat cuaca saat ini yang cukup panas.

    MEIDYANA ADITAMA WINATA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.