4 Peran Buron Penganiaya Ninoy Karundeng yang Menyerahkan Diri

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti Haryadi (tengah) menyampaikan keterangan dalam rilis kasus penganiayaan Ninoy Karundeng di Polda Metro Jaya, Selasa, 22 Oktober 2019. TEMPO/Genta Shadra Ayubi

    Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti Haryadi (tengah) menyampaikan keterangan dalam rilis kasus penganiayaan Ninoy Karundeng di Polda Metro Jaya, Selasa, 22 Oktober 2019. TEMPO/Genta Shadra Ayubi

    TEMPO.CO, Jakarta - Shairil Anwar, tersangka kasus penganiayaan terhadap relawan Jokowi Ninoy Karundeng, memiliki empat peran dalam kasus tersebut. Peran pria yang sempat buron ini terungkap dari interograsi polisi usai Shairil menyerahkan diri, kemarin. 

    "Pertama ikut menginterogasi dan intervensi korban. Kedua, memberi perintah kepada F dan B untuk melakukan pencurian data serta menghapus data korban," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono saat dihubungi, Jumat, 25 Oktober 2019. 

    Shairil juga mengambil barang-barang milik Ninoy, seperti flash disk, hard disk, dan sim card telepon genggamnya. Shairil juga tak memberi perawatan kepada Ninoy yang terluka, padahal ia tengah menjadi relawan tenaga medis saat demonstrasi 30 September 2019. 

    Shairil sempat menjadi buron karena kasus penganiayaan itu. Suami dokter Insani Zulfah Hayati, salah satu tersangka dengan kasus yang sama, akhirnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya dengan diantar Dewan Kemakmuran Masjid Al Falaah. 

    "Kami dari DKM Masjid Al Falaah Pejompongan beritikad baik membawa 1 orang DPO sesuai pers release kemarin. Beliau DPO datang ke kami untuk menyerahkan diri," ujar Ketua Harian DKM masjid Al Falaah, Ferry di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019. 

    Ferry menjelaskan kedatangan Shairil ke Masjid Al Falaah murni karena keinginannya sendiri. Ia menyerahkan diri sekitar pukul 13.00 seorang diri dan langsung bertemu pengurus masjid untuk minta diantar ke kantor polisi.

    Adapun kronologis penganiayaan yang dilakukan oleh Insansi dan suami berawal saat keduanya menjadi tenaga medis di demonstrasi 30 September 2019. Saat itu demonstrasi berakhir ricuh dan mengakibatkan banyak korban luka. 

    Ninoy yang mengikuti para korban luka itu tiba-tiba dikeroyok massa. Ia lalu diamankan ke dalam Masjid Al Falaah, Pejompongan, Jakarta Barat. Namun di dalam masjid Ninoy justru mendapat ancaman dan intimidasi. 

    Ia dipukuli dan diancam dibunuh oleh belasan orang di dalam masjid. Video penganiayaan Ninoy ini lalu viral di media sosial dan menjadi salah satu alat bukti bagi polisi untuk menangkap pelaku. 

    Dokter Insani Zulfah dan suaminya Shairil Anwar yang menjadi tenaga medis di aksi itu tak melakukan pertolongan medis terhadap Ninoy Karundeng. Bersama istrinya, Shairil justru ikut menginterograsi korban. Atas dasar hal itu polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.