Revitalisasi Trotoar di Otista, Parkir Liar Kembali Merajalela

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menyelesaikan proyek revitalisasi trotoar di kawasan Kemang, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019. Revitalisasi trotoar Kemang ditargetkan akan selesai pada November 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pekerja tengah menyelesaikan proyek revitalisasi trotoar di kawasan Kemang, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019. Revitalisasi trotoar Kemang ditargetkan akan selesai pada November 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, JakartaRevitalisasi trotoar di Jalan Raya Otista, Jakarta Timur, sebagian telah rampung dikerjakan. Meskipun demikian, alih fungsi trotoar masih terjadi di sejumlah titik. 

    Berdasarkan laporan Antara, Selasa 29 Oktober 2019, sejumlah pengusaha pertokoan tampak memanfaatkan trotoar sebagai area parkir bagi kendaraan konsumen. Belum genap dua pekan selesai, sejumlah mobil maupun motor diparkir di atas trotoar pertokoan hingga menghalangi akses bagi pejalan kaki.

    Tempat parkir ilegal itu mayoritas terjadi di sejumlah restoran, warung, bengkel aksesoris maupun tambal ban, hingga sekolahan.

    Meski fisik trotoar selebar 3,5 meter dengan ketebalan coran berkisar 60 centimeter, namun pengendara mobil maupun motor dengan leluasa bisa memarkirkan kendaraannya.

    Sebab pengusaha memasang ganjalan besi maupun kayu di antara badan jalan dan trotoar untuk memudahkan roda ban kendaraan bermotor melintas.

    "Lagian saya tidak punya tempat parkir. Toko segini-gini aja, tidak punya lahan lagi," kata Dabri (47) pegawai Cahaya Warna Sablon.

    Proyek garapan Dinas Bina Marga DKI Jakarta itu juga tampak dipalang menggunakan batang kayu sepanjang 3 meter oleh oknum pedagang warung dekat gang Perumahan Taman Indah. Dia beralasan hal itu dilakukan agar pengendara motor tidak bisa melintas di trotoar.

    "Kami tutup dari seminggu kemarin. Soalnya motor suka pada lewat seenaknya. Banyak anak-anak juga yang takut ketabrak," kata Pendi (29) pedagang warung kopi.

    Berjarak sekitar 100 meter dari warung Pendi, pejalan kaki dihadang oleh delapan drum tiner di atas trotoar yang beralih fungsi sebagai pajangan toko cat.

    "Sebelum trotoar ini ada, drum saya sudah lebih dulu ada di sini," kata pedagang toko yang akrab disapa Enci.

    Sejumlah papan reklame usaha juga terpasang di tengah trotoar, bahkan berdiri di lintasan khusus pejalan kaki tuna netra yang bercorak kuning.

    Pelanggaran terhadap hak pejalan kaki di kawasan tersebut tampak luput dari perhatian petugas terkait. Hingga Selasa sore tidak tampak petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang bersiaga.

    Dari total panjang lintasan trotoar sekitar 3,6 kilometer di Otista, hampir separuhnya telah rampung dikerjakan dengan target penyelesaian keseluruhan di akhir tahun. Proyek revitalisasi trotoar ini sebenarnya dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada para pejalan kaki. Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat menyatakan akan memperbolehkan Pedagang Kaki Lima berjualan di beberapa titik. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?