Pembunuhan Sopir Taksi Online di Bogor, Pelaku Penumpangnya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. shutterstock.com

    Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Bogor - Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bogor Kota menangkap pelaku pembunuhan terhadap Ahsanul Fauzi, 31 tahun, seorang pengemudi taksi online. Jenazah Fauzi ditemukan dalam kondisi luka parah di leher akibat ditusuk pisau cutter.

    "Pelaku ditangkap petugas saat bersembunyi di kamar kontrakan di wilayah Cibinong," kata Kepala Kepolisian Resor Kota Bogor Kota Komisaris Besar Hendri Fiuser, Senin, 4 November 2019.
    Hendri mengatakan identitas tersangka diketahui berinisial FP, 25 tahun. Ia ditangkap pada Sabtu, 2 November lalu atau dua hari setelah menghabisi nyawa korban di dalam mobil Toyota Calya bernopol F 1088 CL.

    Jenazah Fauzi sebelumnya ditemukan dalam mobilnya yang terparkir di area parkir Bank BRI Jalan Raya Tajur, Kecamatan Bogor Timur pada Kamis, 31 Januari lalu. Jenazahnya ditemukan oleh satpam bank pada Kamis dini hari.

    Mengenai motif, Hendri mengatakan tersangka hendak mengambil harta korban. "Berdasarkan keterangan tersangka pada penyidik, motif pembunuhan pengemudi taksi online ini diduga karena pelaku ingin merampok uang korban," kata dia.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bogor Kota, Ajun Komisaris Niko Adi Putra mengatakan kepada penyidik pelaku memesan taksi online yang dikemudikan korban dari Jalan Pahlawan dengan tujuan ke Ciawi. "Saat memesan taksi online, menggunakan smart phone yang dipinjamnya dari pedagang pecel lele tempat dia makan dengan tujuan Ciawi," kata dia.

    Namun, sebelum makan di warung pecel lele, pelaku terlebih dahulu membeli pisau cutter di salah satu mini market tidak jauh dari tempat itu. "Pelaku diduga sudah merencanakan perampokan itu, karena sebelum memesan taksi online terlebih dahulu membeli pisau," kata Niko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.