Cerita Konsumen Kampoeng Kurma Tertarik untuk Investasi

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pohon-pohon kurma tampak mengering di lahan milik PT Kampoeng Kurma di Jalan Raya Assogiri, Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Kamis 14 November 2019. Di atas lahan itu awalnya ditanami puluhan pohon kurma, tapi kini kondisinya tidak terurus, bahkan puluhan pohon kurma sudah banyak yang mati. Tempo/M Sidik Permana

    Pohon-pohon kurma tampak mengering di lahan milik PT Kampoeng Kurma di Jalan Raya Assogiri, Tanah Baru, Bogor Utara, Kota Bogor, Kamis 14 November 2019. Di atas lahan itu awalnya ditanami puluhan pohon kurma, tapi kini kondisinya tidak terurus, bahkan puluhan pohon kurma sudah banyak yang mati. Tempo/M Sidik Permana

    TEMPO.CO, Jakarta -Investor Kampoeng Kurma, Irvan Nasrun, 44 tahun, menceritakan awal mula ketertarikannya untuk bergabung bersama PT Kampoeng Kurma pada Kamis, 14 November 2019. Karyawan swasta ini mengatakan bahwa PT Kampoeng Kurma menjanjikan keuntungan usaha.

    Irvan mengatakan satu kavling dengan luas 400 meter persegi untuk ditanami lima pohon kurma. Kelima pohon itu jika berbuah lima tahun kemudian akan menghasilkan keuntungan Rp 150 juta. "Dan setiap tahunnya dijanjikan akan berbuah," kata Irvan ketika dihubungi Tempo, Kamis, 14 November 2019.

    Sehingga Irvan tertarik untuk menginvestasikan dananya sebesar Rp 99 juta untuk satu kavling pada Januari 2018. Lalu pada pertengahan 2018, ia menambahkan enam kavling dengan total dana sebesar Rp 417 juta.

    Namun, janji tersebut tidak kunjung diwujudkan oleh PT Kampoeng Kurma sehingga membuat ratusan investor kecewa dan meminta mereka untuk mengembalikan dana pembelian lahan kavling tersebut.

    “Saya minta dana kembali karena belum ada jual beli, lahannya belum siap, pohon juga belum ditanam, fasilitas pun belum. Jangankan pohon, lahan saja belum diratakan,” kata Irvan.

    Menurut Irvan masalah ini sudah disomasikan secara resmi sebanyak tiga kali. Dan sebelumnya sudah dibicarakan melalui telepon dan Whatsapp.

    “Sudah disomasi tiga kali secara resmi, sebelumnya saya hubungi melalui telepon dan Whatsapp tapi tanggapan mereka selalu bilang enggak ada dana. Setiap somasi juga saya bilang ke mereka kalau mereka enggak tepati janji, saya akan angkat ini ke media,” kata Irvan, yang menjadi korban investasi bodong.

    MEIDYANA ADITAMA WINATA | MARTHA WARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?