4 Siswa Korban Kebakaran Sekolah di Bekasi Masih Dirawat Intensif

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kebakaran di Gedung SMK Yadika 6, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Senin 18 November 2019. Kebakaran sekolah itu menyebabkan 16 guru dan siswa terluka, dua di antaranya luka berat karena nekat melompat dari ketinggian. Tempo/Adi Warsono

    Kebakaran di Gedung SMK Yadika 6, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Senin 18 November 2019. Kebakaran sekolah itu menyebabkan 16 guru dan siswa terluka, dua di antaranya luka berat karena nekat melompat dari ketinggian. Tempo/Adi Warsono

    TEMPO.CO, Jakarta -Empat siswa korban kebakaran di SMK Yadika 6 Pondokgede, Kota Bekasi, masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Yadika, Jakarta Timur, Selasa, 19 November 2019.

    "Kemarin sore kami menerima 11 korban kebakaran, tujuh sudah dipulangkan, empat lainnya masih dirawat intensif," kata Direktur Rumah Sakit Yadika Stefanus Sumarsono di Jakarta.
     
    Menurut dia, dari empat siswa, satu di antaranya menjalani operasi patah tulang, tiga lainnya luka bakar di bawah lima persen. Stefanus memperkirakan korban luka bakar ringan akan diperbolehkan pulang dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan.
     
    "Dua atau tiga hari perawatan sebelum dipulangkan. Kalau yang operasi lihat respons pasiennya," katanya.

    Kebakaran melanda gedung empat lantai SMK Yayasan Abadi Karya atau Yadika 6 di Jalan Wadas Raya Nomor 32, RT 002/RW 004, Jaticempaka, Pondok Gede, Kota Bekasi, Senin, 18 November pukul 15.30 WIB.
     
    Sejumlah siswa dan guru dilaporkan berhamburan keluar gedung. Bahkan beberapa di antaranya ada yang nekat melompat dari lantai dua gedung hingga mengalami patah tulang.
     
    Saat api membakar gedung sekolah, masih ada 799 siswa di dalam kelas karena aktivitas belajar-mengajar baru selesai jam 16.00 WIB.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.