Garuda Mendarat di Bandara Halim, Ini Penjelasan AirNav Indonesia

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang teknisi melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia memesan Max 8 sebanyak 50 unit adalah untuk peremajaan dan efesiensi. REUTERS/Willy Kurniawan

    Seorang teknisi melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia memesan Max 8 sebanyak 50 unit adalah untuk peremajaan dan efesiensi. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Tangerang - Manager Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait mengatakan pengalihan pendaratan pesawat Garuda Indonesia GA 271 ke Bandara Halim Perdanakusuma pada Jumat siang, 22 November 2019 dilakukan karena cuaca memang tidak memadai untuk pendaratan.

    "Karena angin kencang bahkan wind shear. Ini terjadi mulai sekitar 03.50 sampai 05.10 UTC," kata Yohanes melalui pesan singkat kepada Tempo, Sabtu, 23 November 2019.

    Menurut Yohanes, ada dua penerbangan yang terdampak akibat cuaca buruk kemarin yaitu GA 271 dari WIDY (Banyuwangi) tipe CRJ, Go Around 2x pukul 03.58, divert to Halim and landed 04.45 UTC serta penerbangan LNI621 jam 05.09, Go Around dari Tanjungpinang dan landed 05.24.

    Yohanes menegaskan tidak ada pendaratan darurat karena yang terjadi adalah divert atau pengalihan. "Istilah darurat dipakai kalau pesawat mengalami kerusakan dan lain-lain," ujarnya.

    Vice President Corporate Secretary PT Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan mengatakan pesawat GA 271 mendarat di Halim Perdana Kusuma pada pukul 11.50 karena cuaca kurang baik di Cengkareng. "Sebagian penumpang telah diturunkan bandara Halim atas permintaan sendiri," ujarnya, Jumat, 22 November 2019.

    Ikhsan mengatakan setelah mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, sebagian penumpang meminta untuk turun dan mengakhiri perjalanannya di Bandara Halim. Garuda Indonesia bersedia untuk mengakomodir permintaan tersebut setelah berkoordinasi dengan otoritas bandara setempat serta berkoordinasi dengan ground handling yang ada di Halim.

    "Sebagai informasi Garuda Indonesia tidak memiki rute penerbangan dari dan ke Halim dan tidak memiliki izin menurunkan penumpang di Halim. Garuda Indonesia juga tidak memiki Ground Handling di Halim sehingga perlu waktu untuk berkoordinasi untuk mengakomodir permintaan penumpang," kata Ikhsan.

    Sesuai aturan penerbangan di domestik dan internasional, kata Ikhsan, Garuda Indonesia diharuskan untuk menerbangkan penumpang dari bandara asal hingga bandara akhir tujuan. namun Garuda harus melihat situasi yang berkembang dilapangan sehingga mengizinkan penumpang untuk turun di Halim.

    Dari total 94 penumpang, sebanyak 69 penumpang memutuskan turun di Halim, sedangkan 25 penumpang melanjutkan perjalanan ke Cengkareng.

    Garuda Indonesia, kata Ikhsan, memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh penumpang bahwa pendaratan yang seharusnya di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng terpaksa dialihkan ke Halim untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan perjalanan para penumpang. Garuda Indonesia juga membutuhkan waktu untuk berkoordinasi dengan otoritas dan groundhandling untuk penurunan penumpang karena Halim bukan last destination pesawat GA 271.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.