Fenomena Tanah Bergerak, Warga Desak Pemkot Tangsel Bertindak

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fenomena tanah bergerak d Keranggan, Setu, Tangerang Selatan membuat enam rumah retak dinding dan lantai bahkan hingga ambruk, Jumat 22 November 2019. Tempo/Muhammad Kurnianto

    Fenomena tanah bergerak d Keranggan, Setu, Tangerang Selatan membuat enam rumah retak dinding dan lantai bahkan hingga ambruk, Jumat 22 November 2019. Tempo/Muhammad Kurnianto

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Warga terdampak fenomena tanah bergerak di 
    RT 14 RW 03 kelurahan Keranggan, minta pemerintah Kota Tangerang Selatan segera turun tangan. Warga minta tebing dekat rumah mereka segera diturap karena khawatir longsor akibat fenomena ini.        

    "Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah datang kesini untuk melihat lokasi, kemudian mereka juga memasang imbauan kalau di sini rawan longsor, kata Ketua Rt 14 Rt 03 Samwani, Senin 25 November 2019.

    Menurut Samwani, kejadian tanah bergerak membuat enam rumah di wilayahnya retak- retak dinding dan lantai sehingga penghuni ketakutan rumah mereka bakal ambruk.

    "Ya ngeri juga, apalagi masuk ke musim hujan begini, kalau malam suka sulit tidur seperti tadi malam saya baru bisa tidur jam 03.00 wib karena was- was," ujarnya.

    Selain was- was, Samwani juga meminta kepada pemerintah kota untuk cepat menangani, entah dengan membangun turap di tebing yang ada disamping rumahnya atau bantuan apapun itu.

    Seorang warga RT 14 RW 03, Yakub (55) mengatakan rumahnya juga mengalami kerusakan akibat fenomena tanah bergerak di Kecamatan Setu itu, tetapi sudah ditambal untuk menutup kerusakan dinding dan lantai rumahnya. "Mudah- mudahan pemkot Tangsel segera mengambil tindakan, seperti apa nantinya apakah mau di turab atau mau rumah warga dibetulkan," ujarnya.

    MUHAMMAD KURNIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.