PT MRT Jakarta Raup Laba Rp 60 M, Begini Rinciannya

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta saat pemaparan ihwal laba di kantornya, gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019. TEMPO/Lani Diana

    Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta saat pemaparan ihwal laba di kantornya, gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Mass Rapid Transit atau MRT Jakarta memperoleh untung di tahun pertama beroperasi. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyebut, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu meraup laba Rp 60-70 miliar selama Maret-November 2019. William menjelaskan, di periode itu perusahaannya menerima penghasilan Rp 1 triliun. Sementara pengeluarannya Rp 940 miliar.

    "Selama sembilan bulan ini beroperasi kira-kira kami mengeluarkan Rp 940 miliar. Di angka itu laba komprehensif Rp 60-70 miliar," kata William saat pemaparan di kantornya, Gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019.

    William menjabarkan untung tersebut didapat dari tiga sumber pendapatan, yakni penjualan tiket atau farebox, non farebox, dan subsidi. Selama Maret-November, PT MRT Jakarta menerima penghasilan dari tiket sebesar Rp 180 miliar. Perusahaan pelat merah itu mencatat jumlah penumpang mencapai 19,99 juta untuk periode 24 Maret-26 November 2019. Per bulannya rata-rata penumpang sebanyak 83.516 orang.

    Selanjutnya penghasilan dari non farebox senilai Rp 225 miliar. Penghasilan non farebox merupakan pendapatan dari empat unsur, yaitu telekomunikasi (2 persen), periklanan (55 persen), retail dan UMKM (1 persen), serta penamaan di stasiun alias naming rights (33 persen).

    Terakhir adalah pendapatan berupa subsidi tiket dari pemerintah DKI Jakarta. Tahun ini PT MRT Jakarta menerima subsidi Rp 560 miliar yang diambil dari suntikan modal atau penyertaan modal daerah senilai Rp 672,38 miliar.

    "Ini saja sudah lebih besar dari pendapatan tiket," ujar William. "Ada pendapatan lain-lain juga seperti bunga bank," lanjut dia.

    Kereta moda raya terpadu atau MRT beroperasi sejak 24 Maret 2019. Kereta bawah tanah itu terdiri dari 13 stasiun yang membentang sepanjang 15,7 kilometer dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Pembangunan MRT Fase 1 ini membutuhkan investasi Rp 16 triliun yang seluruhnya dikucurkan oleh Japan International Cooperation Agency.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?