Tahun Kedua Operasional, PT MRT Jakarta Target Laba Rp 250 Miliar

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrean mengular terlihat di pintu keluar stasiun MRT Lebak Bulus arah ke Jalan Cipete Raya pada Rabu, 17 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    Antrean mengular terlihat di pintu keluar stasiun MRT Lebak Bulus arah ke Jalan Cipete Raya pada Rabu, 17 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - PT MRT Jakarta mengandalkan pendapatan di luar penjualan tiket alias non farebox untuk lebih mendongkrak laba pada tahun depan. Tahun ini mereka meraup laba Rp 60 miliar dan menetapkan target lonjakan lebih dari 300 persen pada 2020.  

    Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyatakan tak bisa mengandalkan pendapatan semata dari hasil penjualan tiket untuk target tersebut. Sebab, penghasilan tiket bergantung pada jumlah penumpang. Sedang tarif tiket masih disubsidi Pemerintah DKI Jakarta.

    Artinya, jumlah penumpang yang melebihi proyeksi akan menjadi beban tersendiri karena tak tertanggung subsidi. Pendapatan non farebox atau non tiket yang lalu digunakan untuk menutup kekurangan subsidi tiket itu. 

    "Kalau dia (subsidi) sudah lebih dari angka itu (yang sudah ditetapkan), ya sudah harus dibayar sendiri yang diambil dari tempat lain," kata William saat pemaparan di kantornya, Gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu 27 November 2019.

    PT MRT Jakarta menargetkan meraup laba Rp 200-250 miliar pada 2020. Angka ini melonjak lebih dari 300 persen ketimbang laba yang didapat tahun ini, yakni Rp 60-70 miliar. Untuk mencapai target laba, PT MRT menyatakan berupaya memacu pendapatan non farebox di tahun kedua dan ketiga operasional kereta yang sebagian jalurnya menjulur di bawah tanah ini.

    Warga menggunakan kereta MRT pada hari terakhir periode gratis di Stasiun MRT Blok M, Jakarta, Ahad, 31 Maret 2019. PT MRT Jakarta optimis mampu mengangkut penumpang sebanyak 65 ribu orang per hari saat mulai beroperasi secara komersil. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Menurut William, penghasilan terbesar perusahaan pelat merah itu pada 2019 diperoleh dari pendapatan non farebox berupa iklan dan penamaan di stasiun atau naming rights. Total pendapatan non farebox PT MRT mencapai Rp 225 miliar. "Ini akan kami pertahankan tahun depan bahkan ditingkatkan," ujar William.

    Sementara pendapatan dari tiket alias farebox hanya Rp 180 miliar untuk periode 24 Maret-26 November. Angka ini diperoleh dari jumlah penumpang yang mencapai 19,99 juta selama periode tersebut. Menurut William, tercatat rata-rata 83.516 orang naik MRT Jakarta setiap bulannya.

    Kereta moda raya terpadu (MRT) Ratangga beroperasi sejak 24 Maret 2019. Kereta bawah tanah itu terdiri dari 13 stasiun yang membentang sepanjang 15,7 kilometer dari Lebak Bulus-Bundaran HI. Pembangunan MRT Fase 1 ini membutuhkan investasi Rp 16 triliun yang seluruhnya dikucurkan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan ditanggung bersama Pemerintah DKI dan pusat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.