MRT Rencanakan Pengembangan Kawasan TOD untuk Tambah Laba

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengaturan lalu lintas jalur khusus angkutan umum saat uji coba di bawah Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan melakukan uji coba satu jalur khusus yang hanya dapat dilewati oleh angkutan umum selama satu bulan tersebut sebagai bagian dari upaya untuk mendorong masyarakat menggunakan area transit plaza sebagai tempat antar jemput. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas melakukan pengaturan lalu lintas jalur khusus angkutan umum saat uji coba di bawah Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan melakukan uji coba satu jalur khusus yang hanya dapat dilewati oleh angkutan umum selama satu bulan tersebut sebagai bagian dari upaya untuk mendorong masyarakat menggunakan area transit plaza sebagai tempat antar jemput. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta William Sabandar mengharapkan implementasi kawasan terintegrasi alias transit oriented development (TOD) di sekitar stasiun kereta MRT bakal meningkatkan laba perusahaan pada 2021.

    PT MRT menargetkan laba Rp 300-350 miliar di tahun ketiga kereta bawah tanah itu beroperasi. Angka ini melonjak lebih dari 300 persen dari laba tahun ini, yakni Rp 60-70 miliar.

    "Kami berharap 2021 meraih untung Rp 300-350 miliar karena pada saat ini kami sudah mulai melakukan pengelolaan TOD," kata William saat pemaparan di kantornya, gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019.

    Meski begitu, Willam belum dapat memastikan berapa persentase keuntungan yang diperoleh dari pengembangan TOD. Sebab, hingga kini belum ada percontohan kawasan TOD yang bisa mendongkrak laba Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu.

    PT MRT merencanakan pengembangan kawasan berkonsep TOD di lima titik stasiun MRT. Lima titik itu antara lain kawasan Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M-ASEAN, Istora-Senayan dan Dukuh Atas.

    William mengatakan pengembangan kawasan TOD berpotensi meningkatkan jumlah taman dan ruang terbuka hijau (RTH), populasi penduduk serta unit hunian terjangkau. "TOD meningkatkan ridership. Kalau kami tidak menyiapkan kawasannya, penumpang membeludak," ujarnya.

    Pembangunan TOD terdiri dari intergrasi transportasi publik dengan bangunan atau gedung tertentu (transport hub), revitalisasi pedestrian, pembangunan rumah susun alias rusun hingga taman. William merencanakan pembangunan taman di kawasan Istora-Senayan yang bisa terkoneksi dengan stasiun MRT. Ide ini, kata dia, sama seperti yang ada di Central Park New York.

    "Kalau bisa dibuat entrance yang langsung terkoneksi dengan taman tadi, Central Park New York misalnya, keluar langsung taman. Jadi ada entrance yang langsung terkoneksi dengan taman," ujar William.

    PT MRT mengajak pihak swasta untuk berkontribusi dalam pengembangan kawasan TOD. Menurut William, perlu ada kerja sama dari tiga pihak. Pertama, pemerintah DKI selaku penyuntik dana. Kedua, PT MRT yang mengelola kawasan TOD dan meningkatkan pelayanan. Ketiga, pihak swasta yang dinilai turut bertanggung jawab mengembangkan kawasan dengan membangun beberapa fasilitas.

    Implementasi TOD ditargetkan mulai 2020. Saat ini, PT MRT tengah menunggu Peraturan Gubernur mengenai panduan rancang kota (PRK) yang memuat pengembangan kawasan TOD di lima stasiun MRT.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...